View Full Version: Aku dan Bapa adalah satu

sarapanpagi >>KRISTOLOGI >>Aku dan Bapa adalah satu


<< Prev | Next >>

BP- 09-05-2005
Aku dan Bapa adalah satu
Aku dan Bapa adalah satu TANYA : "Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:30) Mendengar statement Yesus tersebut maka orang-orang Yahudi lalu mengambil batu dan melempari Yesus (Yoh 10:31). Yesus heran dengan sikap mereka, lalu Yesus bertanya: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" (Yoh 10:32) Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yoh 10:33) Kemudian Yesus menjelaskan, kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." (Yoh 10:34-38) Para netters sekalian yang dikasihi Allah. Saat kita mendengar ungkapan Yesus; "Aku dan Bapa adalah satu.", maka dengan serta merta kita akan berfikir bahwa Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Yesus adalah satu oknum? JAWAB : * Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu TR, εγω και ο πατηρ εν εσμεν Interlinear, egô {Aku} ka i{dan} ho patêr {Bapa itu} hen {satu} esmen {kami adalah} Bahasa Yunani Perjanjian Baru menggunakan tiga kata yang diterjemahkan dengan satu yaitu HEIS (maskulin), MIA (feminin), dan HEN (netral). Kata bilangan satu, dua, tiga, dan seterusnya menggunakan bentuk maskulin, HEIS, DUO, TREIS, TETTARES, PENTE, dan seterusnya. Jika ada nomina yang feminin, maka akan digunakan MIA, DUO, TRIA, TETTARA, tetapi tidak digunakan untuk menghitung secara berurutan, melainkan menerangkan kuantitas nomina yang feminin. Baik bentuk maskulin maupun feminin dapat diadakan operasi penambahan dan pengurangan. Kata "HEIS" yang maskulin dan "MIA" yang feminin ini dapat dibandingkan dengan kata Ibrani YAKHID atau kata Arab WAHID. Sebaliknya "HEN" yang netral senantiasa berhubungan dengan hakekat, natura, tidak pernah merujuk kepada satu oknum atau satu pribadi. Kata ini dapat pula dibandingkan dengan kata Ibrani 'EKHAD atau kata Arab 'AHAD (Esa). The Orthodox Jewish Brit Chadasha (Perjanjian Baru Yahudi Ortodoks) menerjemahkan Yohanes 10:30 dengan, "I and HaAv are ECHAD." bandingkan dengan : * Ulangan 6:4 "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" HEBREW TRANSLIT : SYEMA' YISRÂ'ÊL YEHOVÂH 'ELOHÊYNÛ YEHOVÂH 'EKHÂD • King James Version, "Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:" • New International Version, "Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one." • The Living Torah, "Shma Yisra'el Adonay Eloheynu Adonay Echad." – "Listen, Israel, God is our Lord, God is One." • Tanach Stone Edition, "Hear, O Israel: HASHEM is our God, HASHEM is the One and Only." • The Orthodox Jewish Bible, "Shema Yisroel Adonoi Eloheinu Adonoi Echad." Yohanes 10:30 dari segi kaidah bahasa Yunani, menyatakan bahwa Yesus dan Bapa memiliki satu Dzat, satu Hakekat yaitu Allah. Konteks kata satu "hen" untuk ayat diatas menunjukkan pernyataan Yesus adalah Allah, yang "satu" sama hakekat dengan Bapa yang dipertegas dengan pernyataan "hen esmen". Kata Yunani "esmen" dalam Yohanes 10:30 adalah "to be" dalam modus indikatif, pernyataan fakta. Ayat diatas lebih lanjut dipertegas dalam ayat-ayat :"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9), dan "Akulah jalan dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Muatan ayat tersebut tidak akan diterima/ masuk dalam logika/pengertian umat non-Kristen. Tetapi inilah perbedaan utama Kekristenan dengan kepercayaan lain. Oleh karena Yesus Kristus adalah Allah, dosa-dosa kita telah dihapuskan dalam darah Allah; hanya oleh darah Allah yang sempurnalah dosa-dosa kita dapat terhapuskan untuk memenuhi keinginan Allah yang suci dan benar. Dasar dari keselamatan kita adalah karya Yesus Kristus. Maka utamanya iman Kristen adalah berpegang pada satu jalan keselamatan yaitu melalui Kristus seperti tertulis pada Yohanes 14:6 Sumber : Yohannes/ Biblika Artikel terkait : 25. Yesus menyatu dengan Bapa atau murid-muridNya? di : http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1028#1028

BP- 09-05-2005
”Satu” yang Kontroversial Itu
”Satu” yang Kontroversial Itu Oleh Eka Darmaputera ”Kita di sini, Tuhan di sana”, begitu bunyi sebuah ungkapan terkenal. Ungkapan tersebut mengingatkan, bahwa antara ”Allah” dan ”manusia” ada jarak yang tak terjembatani. Ia ”Khalik”, kita ”makhluk”. Berbeda, tidak cuma secara ”gradasi”, tapi dalam ”esensi” Ia ”Khalik”, kita ”makhluk”. Ia, kata Durkheim, adalah ”the Wholly Other”. ”Sang Mahalain”. Karena itu, menyamakan diri dengan Allah pasti buruk akibatnya. Bila berkuasa, ia pasti jadi tiran. Sebab menuntut ketaatan mutlak. Dan bila religius, ia pasti seorang hipokrit. Munafik. Arogan dan ”sok suci”. Tapi yang paling jelas, menyamakan diri dengan Allah adalah penghujatan dengan kualitas nomor satu. Meninggikan diri, sekaligus merendahkan Allah. Karena Allah sejati, tak mungkin didampingi, disandingi, apalagi ditandingi. *** KARENA itu sama sekali tidak mengherankan, bila klaim Yesus yang menyatakan ”AKU DAN BAPA ADALAH SATU” (Yohanes 10:30) membuat ”shock” para pendengarnya. Dan segera menjadi ganjalan utama, bagi orang-orang Yahudi maupun bagi orang-orang Romawi. Bagi orang-orang Yahudi, klaim tersebut telah menginjak-injak akidah agama mereka yang paling sentral. Akidah tentang ”keesaan Allah”. Sekaligus dengan itu, ia juga melecehkan hukum agama mereka yang paling utama. Hukum yang mengatakan, ”Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3). Di sisi lain, bagi orang-orang Romawi, klaim Yesus sebagai ”kurios” atau ”Tuhan”, diterima sebagai bentuk arogansi dan intoleransi. Yang bukan hanya menimbulkan antipati, tapi dianggap berpotensi membahayakan kesatuan negeri. Betapa tidak. Dengan jiwa besar, pemerintahan Romawi telah memberi kebebasan sepenuh-penuhnya kepada segenap warganya untuk beribadah kepada ”allah” mereka masing-masing. Cuma satu hal dituntut dari mereka. Yaitu, menyatakan kesetiaan kepada Kaisar. Kesetiaan tersebut dinyatakan dengan membakar dupa di depan patung kaisar, sambil mengikrarkan ”Caesar adalah kurios” – cukup. Dari satu sudut pandang tertentu, apa yang dituntut itu lebih merupakan sebuah ”seremoni sosial” ketimbang sebuah ”ritus agama”. Sama seperti yang biasa kita lakukan: hari Minggu mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli, lalu Senin paginya mengikrarkan Pancasila dan UUD 1945. Tapi orang-orang Kristen waktu itu – paling sedikit sebagian, tidak berpikir demikian. Mereka menolak melakukan itu. Bukan sebab tidak loyal kepada kaisar. Namun bagi mereka, ”kurios” itu satu saja, Kristus, tak ada yang lain. Berikrar bahwa ada ”kurios” yang lain – apa pun motivasinya — berarti mengkhianati Dia yang tak pernah satu kali pun mengkhianati mereka. Penolakan massal ini menjadi awal dari masa penganiayaan yang sangat hebat terhadap orang-orang Kristen. Ketika bumi Romawi seolah merah dan basah oleh darah mereka. Menakutkan, memang. Tapi, bagi mereka, inilah harga yang pantas mereka bayar bagi Yesus, Sang Kurios. *** SEBENARNYA bukan hanya bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang Romawi tempo doeloe saja, klaim Yesus ”Aku dan Bapa adalah satu”, menjadi ganjalan. Ini praktis terjadi pada semua orang, sampai sekarang. Bahkan bagi orang-orang Kristen sendiri! Sekitar tahun 215, Sabelius mengajarkan bahwa salah-lah bila orang membayangkan Allah itu tiga. Allah itu ”satu”. Satu sebagai ”pribadi”, dan satu dalam ”esensi”. Hanya saja, Allah yang satu ini, kata Sabelius, memanifestasikan diri dalam tiga ”aspek”. Sebagaimana halnya matahari memanifestasikan keberadaannya dalam tiga ”aspek”nya: ”bola”, ”cahaya”, dan ”panas”. Itulah, menurut pendapatnya, makna ”tri-tunggal”. Bahwa yang ”satu” itu ”tiga”; dan yang ”tiga” itu ”satu”. Satu abad kemudian, Arius muncul dengan ajaran bahwa, tak salah, Yesus itu memang ”Tuhan”. Hakikat-Nya lebih tinggi dan lebih mulia daripada manusia. Namun demikian, kata Arius, Ia toh masih lebih ”rendah” dibandingkan Allah. Kalau pun Ia ”kurios”, Ia adalah ”kurios” dengan huruf kecil. Cuma Bapa saja, ”Kurios” dengan huruf besar! Sebab bila tidak begitu, begitu logika Arius, ada dua ”Kurios” dong! Dan ini bertentangan dengan prinsip monotheisme, bukan? Dan masih banyak lagi ajaran yang lain. Ajaran-ajaran ini semuanya berniat baik, yakni membuat yang tidak masuk akal menjadi masuk akal. Tapi ternyata semua ajaran itu ditolak dan dianggap sesat oleh gereja. Dalam bahasa Latin, ada ungkapan, ”Per sumus refutatur Sabelius, per unum Arius”. Terjemahannya, kira-kira, ”Dengan kata ‘adalah’ pandangan Sabelius ditolak; dan dengan kata ‘satu’ Arius (ditolak)”. Dua kata tersebut – ”adalah” dan ”satu” – berasal dari ayat kita. Yesus mengatakan, ”Aku dan Bapa adalah satu”. Tapi Sabelius tidak. Baginya, ”Bapa” dan ”Yesus” hanyalah ”aspek”. Sama seperti ”bola” atau ”cahaya” atau ”panas” pada matahari. Ketiganya adalah ”aspek-aspek” dari matahari, tapi bukan matahari” itu sendiri. Padahal ajaran resmi gereja tentang Trinitas tidak begitu. Gereja mengajarkan bahwa masing-masing dari ketiganya ”adalah” Tuhan. Namun demikian, toh cuma ada satu Tuhan — bukan tiga! Di mana yang ”tiga” itu dapat dibedakan, tapi tak dapat dipisahkan. Sedang mengenai ajaran Arius masalahnya adalah, karena walaupun ia mengakui Yesus itu Tuhan, ia mengatakan bahwa Yesus tidak sama — tidak satu — dengan Bapa. Tapi lebih rendah. Bertentangan dengan kata-kata Yesus sendiri, ”Aku dan Bapa adalah satu”. *** DENGAN paparan singkat itu, sekarang kita telah mengetahui ajaran resmi gereja. Tapi ”tahu”, kita tahu, tidak sama dengan ”paham”. Maksud saya, dijelaskan bagaimana pun, rasa-rasanya kok tetap saja kita tidak dapat ”memahami” apa yang kita ”ketahui” itu. Apakah Anda merasa begitu? Kalau ”ya”, tak perlu Anda gelisah. Sebab di sini kita memang sedang berbicara mengenai ”Allah”. ”Allah” yang tak akan pernah mungkin kita pahami selengkap-lengkapnya. Bahkan ketika Anda merasa telah memahami semua-muanya tentang ”Allah”, maka hati-hatilah, yang Anda pahami itu pasti bukan Allah! Itu sebabnya saya berani memastikan, bahwa ketika Yesus mengatakan, ”Aku dan Bapa adalah satu”, Ia tidak bermaksud memberi kuliah tentang bagaimana esensi atau hakikat keterkaitan-Nya dengan Sang Bapa. Soal esensi berada di luar daya jangkau kata-kata dan nalar manusia untuk memahaminya. Mustahil dijelaskan. Jadi, apa sebenarnya maksud Yesus? Ia mempunyai tujuan pastoral. Apa yang dikatakan-Nya itu sebenarnya sederhana, praktis dan aplikatif. Dan amat melegakan! Di awal renungan ini, saya menekankan, betapa antara ”Allah” dan ”manusia” ada jarak yang mutlak dan tak terjembatani. Dan ini merupakan situasi yang amat tragis bagi manusia. Mengapa? Sebab kalau Tuhan sama sekali tidak tergantung dari manusia, sebaliknyalah manusia sepenuhnya tergantung kepada Allah. Sehingga saya membayangkan situasi keterpisahan tersebut, seperti ketika hidup kita sepenuhnya tertantung kepada udara, tapi kita kehilangan akses apa pun untuk berhubungan dengan udara. Akibatnya? Paling sedikit, ya gelagapanlah. *** TAPI, puji Tuhan, situasi berubah radikal dengan kedatangan Yesus. Di satu pihak, Ia adalah ”Immanuel” – Allah yang bersama kita. Kini diberitakan, bahwa Ia bukan hanya bersama-sama dengan kita, tapi Ia juga bersama-sama dengan Allah. Kata-Nya, ”Aku dan Bapa adalah satu”. Jarak dan jurang yang mutlak antara ”Allah” dan ”manusia” kini terjembatani sudah! Kita punya akses ke ”udara segar”! Bagaimana ini dapat dipahami dan dijelaskan secara rasional? Saya tidak dapat. Dan saya tahu, tak seorang pun dapat. Namun sekali pun saya tak memahaminya, saya mempercayainya. Dan karena saya mempercayainya, saya menikmatinya! Sama seperti saya tak tahu bagaimana secara detail listrik bekerja, tapi ketidak-tahuan ini toh tidak menghalangi saya untuk menikmati berkat dan manfaatnya. Dan bagaimana dapat kita gambarkan, orang yang karena tidak memahami doktrin Trinitas atau Ke-Tuhan-an Yesus, lalu memutuskan untuk tidak mau percaya? Bukankah mirip dengan orang yang karena tidak memahami bagaimana listrik bekerja, lalu memilih hidup dalam kegelapan, walau sebenarnya ia tinggal menekan tombol yang tersedia di dekatnya? Copyright © Sinar Harapan 2003 http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/16/fea01.html

cahyadi- 06-12-2006

Ya jawab pertanyaan saya,bila Yesus dan Allah adalah satu bandingkan dengan Yoh 17:23 17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 17:20. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.