”Satu” yang Kontroversial Itu”Satu” yang Kontroversial Itu
Oleh Eka Darmaputera
”Kita di sini, Tuhan di sana”, begitu bunyi sebuah ungkapan terkenal. Ungkapan tersebut mengingatkan, bahwa antara ”Allah” dan ”manusia” ada jarak yang tak terjembatani. Ia ”Khalik”, kita ”makhluk”. Berbeda, tidak cuma secara ”gradasi”, tapi dalam ”esensi” Ia ”Khalik”, kita ”makhluk”. Ia, kata Durkheim, adalah ”the Wholly Other”. ”Sang Mahalain”.
Karena itu, menyamakan diri dengan Allah pasti buruk akibatnya. Bila berkuasa, ia pasti jadi tiran. Sebab menuntut ketaatan mutlak. Dan bila religius, ia pasti seorang hipokrit. Munafik. Arogan dan ”sok suci”.
Tapi yang paling jelas, menyamakan diri dengan Allah adalah penghujatan dengan kualitas nomor satu. Meninggikan diri, sekaligus merendahkan Allah. Karena Allah sejati, tak mungkin didampingi, disandingi, apalagi ditandingi.
***
KARENA itu sama sekali tidak mengherankan, bila klaim Yesus yang menyatakan ”AKU DAN BAPA ADALAH SATU” (Yohanes 10:30) membuat ”shock” para pendengarnya. Dan segera menjadi ganjalan utama, bagi orang-orang Yahudi maupun bagi orang-orang Romawi.
Bagi orang-orang Yahudi, klaim tersebut telah menginjak-injak akidah agama mereka yang paling sentral. Akidah tentang ”keesaan Allah”. Sekaligus dengan itu, ia juga melecehkan hukum agama mereka yang paling utama. Hukum yang mengatakan, ”Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3).
Di sisi lain, bagi orang-orang Romawi, klaim Yesus sebagai ”kurios” atau ”Tuhan”, diterima sebagai bentuk arogansi dan intoleransi. Yang bukan hanya menimbulkan antipati, tapi dianggap berpotensi membahayakan kesatuan negeri.
Betapa tidak. Dengan jiwa besar, pemerintahan Romawi telah memberi kebebasan sepenuh-penuhnya kepada segenap warganya untuk beribadah kepada ”allah” mereka masing-masing. Cuma satu hal dituntut dari mereka. Yaitu, menyatakan kesetiaan kepada Kaisar. Kesetiaan tersebut dinyatakan dengan membakar dupa di depan patung kaisar, sambil mengikrarkan ”Caesar adalah kurios” – cukup.
Dari satu sudut pandang tertentu, apa yang dituntut itu lebih merupakan sebuah ”seremoni sosial” ketimbang sebuah ”ritus agama”. Sama seperti yang biasa kita lakukan: hari Minggu mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli, lalu Senin paginya mengikrarkan Pancasila dan UUD 1945.
Tapi orang-orang Kristen waktu itu – paling sedikit sebagian, tidak berpikir demikian. Mereka menolak melakukan itu. Bukan sebab tidak loyal kepada kaisar. Namun bagi mereka, ”kurios” itu satu saja, Kristus, tak ada yang lain. Berikrar bahwa ada ”kurios” yang lain – apa pun motivasinya — berarti mengkhianati Dia yang tak pernah satu kali pun mengkhianati mereka.
Penolakan massal ini menjadi awal dari masa penganiayaan yang sangat hebat terhadap orang-orang Kristen. Ketika bumi Romawi seolah merah dan basah oleh darah mereka. Menakutkan, memang. Tapi, bagi mereka, inilah harga yang pantas mereka bayar bagi Yesus, Sang Kurios.
***
SEBENARNYA bukan hanya bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang Romawi tempo doeloe saja, klaim Yesus ”Aku dan Bapa adalah satu”, menjadi ganjalan. Ini praktis terjadi pada semua orang, sampai sekarang. Bahkan bagi orang-orang Kristen sendiri!
Sekitar tahun 215, Sabelius mengajarkan bahwa salah-lah bila orang membayangkan Allah itu tiga. Allah itu ”satu”. Satu sebagai ”pribadi”, dan satu dalam ”esensi”.
Hanya saja, Allah yang satu ini, kata Sabelius, memanifestasikan diri dalam tiga ”aspek”. Sebagaimana halnya matahari memanifestasikan keberadaannya dalam tiga ”aspek”nya: ”bola”, ”cahaya”, dan ”panas”. Itulah, menurut pendapatnya, makna ”tri-tunggal”. Bahwa yang ”satu” itu ”tiga”; dan yang ”tiga” itu ”satu”.
Satu abad kemudian, Arius muncul dengan ajaran bahwa, tak salah, Yesus itu memang ”Tuhan”. Hakikat-Nya lebih tinggi dan lebih mulia daripada manusia. Namun demikian, kata Arius, Ia toh masih lebih ”rendah” dibandingkan Allah. Kalau pun Ia ”kurios”, Ia adalah ”kurios” dengan huruf kecil. Cuma Bapa saja, ”Kurios” dengan huruf besar! Sebab bila tidak begitu, begitu logika Arius, ada dua ”Kurios” dong! Dan ini bertentangan dengan prinsip monotheisme, bukan?
Dan masih banyak lagi ajaran yang lain. Ajaran-ajaran ini semuanya berniat baik, yakni membuat yang tidak masuk akal menjadi masuk akal. Tapi ternyata semua ajaran itu ditolak dan dianggap sesat oleh gereja.
Dalam bahasa Latin, ada ungkapan, ”Per sumus refutatur Sabelius, per unum Arius”. Terjemahannya, kira-kira, ”Dengan kata ‘adalah’ pandangan Sabelius ditolak; dan dengan kata ‘satu’ Arius (ditolak)”. Dua kata tersebut – ”adalah” dan ”satu” – berasal dari ayat kita.
Yesus mengatakan, ”Aku dan Bapa adalah satu”. Tapi Sabelius tidak. Baginya, ”Bapa” dan ”Yesus” hanyalah ”aspek”. Sama seperti ”bola” atau ”cahaya” atau ”panas” pada matahari. Ketiganya adalah ”aspek-aspek” dari matahari, tapi bukan matahari” itu sendiri.
Padahal ajaran resmi gereja tentang Trinitas tidak begitu. Gereja mengajarkan bahwa masing-masing dari ketiganya ”adalah” Tuhan. Namun demikian, toh cuma ada satu Tuhan — bukan tiga! Di mana yang ”tiga” itu dapat dibedakan, tapi tak dapat dipisahkan.
Sedang mengenai ajaran Arius masalahnya adalah, karena walaupun ia mengakui Yesus itu Tuhan, ia mengatakan bahwa Yesus tidak sama — tidak satu — dengan Bapa. Tapi lebih rendah. Bertentangan dengan kata-kata Yesus sendiri, ”Aku dan Bapa adalah satu”.
***
DENGAN paparan singkat itu, sekarang kita telah mengetahui ajaran resmi gereja. Tapi ”tahu”, kita tahu, tidak sama dengan ”paham”. Maksud saya, dijelaskan bagaimana pun, rasa-rasanya kok tetap saja kita tidak dapat ”memahami” apa yang kita ”ketahui” itu.
Apakah Anda merasa begitu? Kalau ”ya”, tak perlu Anda gelisah. Sebab di sini kita memang sedang berbicara mengenai ”Allah”. ”Allah” yang tak akan pernah mungkin kita pahami selengkap-lengkapnya. Bahkan ketika Anda merasa telah memahami semua-muanya tentang ”Allah”, maka hati-hatilah, yang Anda pahami itu pasti bukan Allah!
Itu sebabnya saya berani memastikan, bahwa ketika Yesus mengatakan, ”Aku dan Bapa adalah satu”, Ia tidak bermaksud memberi kuliah tentang bagaimana esensi atau hakikat keterkaitan-Nya dengan Sang Bapa. Soal esensi berada di luar daya jangkau kata-kata dan nalar manusia untuk memahaminya. Mustahil dijelaskan.
Jadi, apa sebenarnya maksud Yesus? Ia mempunyai tujuan pastoral. Apa yang dikatakan-Nya itu sebenarnya sederhana, praktis dan aplikatif. Dan amat melegakan!
Di awal renungan ini, saya menekankan, betapa antara ”Allah” dan ”manusia” ada jarak yang mutlak dan tak terjembatani. Dan ini merupakan situasi yang amat tragis bagi manusia. Mengapa? Sebab kalau Tuhan sama sekali tidak tergantung dari manusia, sebaliknyalah manusia sepenuhnya tergantung kepada Allah.
Sehingga saya membayangkan situasi keterpisahan tersebut, seperti ketika hidup kita sepenuhnya tertantung kepada udara, tapi kita kehilangan akses apa pun untuk berhubungan dengan udara. Akibatnya? Paling sedikit, ya gelagapanlah.
***
TAPI, puji Tuhan, situasi berubah radikal dengan kedatangan Yesus. Di satu pihak, Ia adalah ”Immanuel” – Allah yang bersama kita. Kini diberitakan, bahwa Ia bukan hanya bersama-sama dengan kita, tapi Ia juga bersama-sama dengan Allah. Kata-Nya, ”Aku dan Bapa adalah satu”. Jarak dan jurang yang mutlak antara ”Allah” dan ”manusia” kini terjembatani sudah! Kita punya akses ke ”udara segar”!
Bagaimana ini dapat dipahami dan dijelaskan secara rasional? Saya tidak dapat. Dan saya tahu, tak seorang pun dapat. Namun sekali pun saya tak memahaminya, saya mempercayainya.
Dan karena saya mempercayainya, saya menikmatinya! Sama seperti saya tak tahu bagaimana secara detail listrik bekerja, tapi ketidak-tahuan ini toh tidak menghalangi saya untuk menikmati berkat dan manfaatnya.
Dan bagaimana dapat kita gambarkan, orang yang karena tidak memahami doktrin Trinitas atau Ke-Tuhan-an Yesus, lalu memutuskan untuk tidak mau percaya? Bukankah mirip dengan orang yang karena tidak memahami bagaimana listrik bekerja, lalu memilih hidup dalam kegelapan, walau sebenarnya ia tinggal menekan tombol yang tersedia di dekatnya?
Copyright © Sinar Harapan 2003
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/16/fea01.html