View Full Version: ALTERNATIF PENERJEMAHAN FILIPI 1:3-5

sarapanpagi >>AJARAN / DOKTRIN/ AYAT ALKITAB >>ALTERNATIF PENERJEMAHAN FILIPI 1:3-5


<< Prev | Next >>

BP- 02-14-2006
ALTERNATIF PENERJEMAHAN FILIPI 1:3-5
ALTERNATIF PENERJEMAHAN FILIPI 1:3-5 * Filipi 1:3-5 1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. WH, eucharistô tô theô mou epi pasê tê mneia umôn WH Interlinear, eucharistô {AKU MENGUCAP SYUKUR} tô theô {KEPADA ALLAH}mou {KU} epi {ATAS/DALAM} pasê {SEMUA/SETIAP} tê mneia {INGATAN/PENYEBUTAN (dalam doa)} umôn {DARI KAMI / (akan) KAMU} 1:4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. WH, pantote en pasê deêsei mou uper pantôn umôn meta charas tên deêsin poioumenos WH Interlinear, pantote {SELALU} en {DALAM} pasê {SETIAP} deêsei {DOA} mou {KU} uper {UNTUK} pantôn {SEMUA} umôn {KAMU} meta {DENGAN} charas {SUKA-CITA} tên deêsin {(berdoa)} poioumenos {MELAKUKAN} 1:5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini WH, epi tê koinônia umôn eis to euaggelion apo tês prôtês êmeras achri tou nun WH Interlinear, epi {ATAS} tê koinônia {PERSEKUTUAN} umôn {MU} eis {DALAM} to euaggelion {KABAR BAIK} apo {DARI} tês prôtês {PERTAMA} êmeras {HARI} achri {SAMPAI} tou nun {SEKARANG} ----- Tulisan ini berawal dari permintaan seorang mahasiswa teologi di Taiwan pada penulis untuk mengklarifikasi struktur gramatikal ayat-ayat di atas. Penulis menganalisisnya dan hasilnya diberikan kepadanya. Tapi, penulis lalu sadar bahwa hasil analisis tersebut berbeda dengan semua terjemahan yang ada. NRSV (1989) menerjemahkannya demikian: 3 I thank my God every time I remember you, 4 constantly praying with joy in every one of my prayers for all of you, 5 because of your sharing in the gospel from the first day until now. TEV (1994) memberikan terjemahan: 3 I thank my God for you every time I think of you; 4 and every time I pray for you all, I pray with joy 5 because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now. Terjemahan CEV adalah: 3 I thank my God for you every time I think of you; 4 and every time I pray for you all, I pray with joy 5 because of the way in which you have helped me in the work of the gospel from the very first day until now. Terjemahan penulis sendiri adalah sebagai berikut: I thank my God because of your every remembrance . In every prayer of mine on behalf of you all, always I prayed with joy. because of your sharing for the Gospel cause from the first day until now. (= Aku bersyukur kepada Allah karena kamu selalu mengingat . Dalam setiap doaku atas nama kamu, aku selalu berdoa dengan sukacita. karena kamu mengambil bagian dalam Injil sejak hari pertama sampai sekarang). Dalam teks aslinya, ada dua klausa epi di sini, yakni dalam ay. 3 “epi pasê tê mneia umôn” ) dan dalam ay. 5 “epi tê koinônia umôn” ). Menurut hemat penulis, kedua klausa itu memang ditempatkan dengan sengaja seperti itu untuk menjadi dasar atau alasan bagi frasa “eucharistô tô theô mou” ‘Aku mengucap syukur kepada Allahku’, (TB-1, red) dalam awal ayat 3. Sementara itu, banyak terjemahan tampaknya mempunyai alasan tertentu untuk tidak memandang penempatan klausa itu seperti demikian. Handbook untuk penerjemahan Alkitab yang diterbitkan oleh UBS (sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh LAI, red) untuk surat Filipi memberikan dua alasan mengapa tidak menerjemahkan “epi pasê tê mneia umôn” dengan ‘karena kamu selalu mengingat : Pertama, perkataan of me (‘akan aku’) tidak ditemukan dalam teks Yunani. Kedua, kata ‘remembrance’ ‘mneia’ (mengingat) muncul berulang kali dalam ayat-ayat pembukaan surat-surat Paulus (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filemon 4). Dalam ayat-ayat tersebut, kata itu berhubungan erat dengan ‘ucapan syukur’ dan digunakan dalam arti ‘menyebut dalam doa’ atau ‘mengingat dalam doa’. Pendapat yang sama ditemukan juga dalam komentar Gerald F. Hawthorne terhadap surat Filipi dalam seri WBC (Word Book Commentary). Ia menekankan bahwa kalau melihat penggunaan Paulus akan kata ‘mneia’ dengan kasus genitif yang ditemukan di mana-mana dalam surat-suratnya, jelas sekali bahwa dia sendirilah (atau dia dan teman-temannya) yang mengingat atau menyebut orang lain, dan bukan sebaliknya (Roma 1:9; Efesus 1:16; 1 Tesalonika 1:2; Filemon 4). Selain itu, Hawthorne juga memberikan semacam Sitz im Leben bahwa Paulus bisa jadi mencermati praktik di dalam PL di mana orang-orang saleh berdoa pada serangkaian waktu (bandingkan dengan Mazmur 5:3; Ezra 9:5; Mazmur 55:17; Daniel 6:10; 1 Tawarikh 23:30). Dan, bahwa ‘epi pasê’ kemungkinan menunjuk kepada semua yang dikatakan Paulus di dalam doanya setiap kali ia berdoa. Karena itu, meskipun Hawthorne mengakui kemungkinan penerjemahan ‘karena kamu mengingat (akan aku)’ , namun ia merasa bahwa data yang ada tampaknya tidak mendukung penafsiran demikian. Bisa jadi memang ada alasannya mengapa penafsiran ‘karena kamu mengingat (akan aku)’ belum dipakai oleh banyak penerjemah Alkitab pada masa silam. Akan tetapi, cukup kuatkah pertimbangan-pertimbangan ini dipergunakan untuk mengesampingkan kemungkinan bahwa frasa ini dapat dipahami sebagai ‘karena kamu mengingat (akan aku)’? Penulis kira tidak begitu. Sebaiknya, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, kita dapat mengatakan bahwa makna klausa tersebut sepertinya adalah ‘ketika setiap kali aku mengingat kamu’. Meskipun demikian, itu tidak harus mendorong kita menarik kesimpulan bahwa penafsiran ‘karena kamu mengingat (akan aku)’ seluruhnya menjadi tidak mungkin. Pandangan Alternatif dan Argumen Berikut ini saya menawarkan beberapa argumen balik mengenai hal itu: Pertama, alasan bahwa perkataan ‘akan aku’ tidak ditemukan dalam naskah Yunani, barangkali tidak dapat dikatakan sebagai argumen yang kuat. Dikatakan demikian karena tata basa Yunani tidak membolehkan penggunaan subjektif dari kasus genitif untuk menaruh objek dalam susunan kalimat itu, kecuali kalau nominalnya adalah sebuah partikel. Dalam hubungan dengan persoalan di atas, yang digunakan adalah kata benda mneia dan bukan partikel mneimoneuonti. Karena itu, tidak ditemukannya ungkapan ‘akan aku’ tampaknya tidak dapat dihindarkan jika klausa ini menjadi sebuah kasus genitif subjektif. Kedua, meskipun penggunaan kata mneia dan kasus genitif yang dikaitkan dengan yang ada dalam Roma 1:9; Efesus 1:16; dan Filemon 4 dimaksudkan untuk dipahami sebagai penggunaan genitif objektif, namun perlu dicermati bahwa tidak satu pun yang muncul sesudah kata depan epi. Dengan demikian, argumen ini tidak menentukan karena konteksnya bisa jadi mempunyai kontribusinya bagi semantik genitif. Sesungguhnya, jika kita meneliti semua penggunaan rumusan eucharistô tô theô mou dalam surat-surat Paulus (Roma 1:8; 1 Korintus 1:4; 14:18; Filipi 1:3; Filemon 4),maka hanya yang ada dalam 1 Korintus 1:4 dan Filipi 1:3 yang diikuti oleh epi dengan sebuah kasus datif yang dimodifikasi oleh sebuah genitif. Yang menarik lagi adalah bahwa dalam 1 Korintus 1:4, epi bisa saja mengandung makna ‘karena’ dan kasus genitifnya harus dimengerti sebagai genitif subjektif (yakni: ‘karena karunia Allah yang diberikan-Nya kepada kamu’). Tentu saja, hanya dengan satu contoh (1 Korintus 1:4), kita tidak bisa mengatakan bahwa kasus genitif dalam Filipi 1:3 seharusnya dipahami sebagai kasus genitif subjektif. Bagi penulis, adanya kasus ini membuat keadaannya semakin tidak dapat dipastikan. Perlu juga diperhatikan di sini bahwa Nigel Turner, dalam bukunya yang berjudul A Grammar of New Testament Greek: Vol. III Syntax menggunakan Filipi 1:3 sebagai contoh untuk memperlihatkan ambiguitas kasus genitif dalam bahasa Yunani. Menurutnya, Filipi 1:3 bisa dikatakan agak ambigu. Klausa “epi pasê tê mneia umôno” bisa saja dikategorikan bersifat (a) subjektif: ‘kapan pun kamu mengingat aku’, atau objektif: ‘kapan pun aku memikirkan kamu’. Kalau begitu, tanpa argumen yang benar-benar kuat, tidaklah bijaksana kalau kita mengabaikan salah satu dari penafsiran ini. Tampaknya sulit bagi kita untuk memilih salah satu dari dua kemungkinan terjemahan ini hanya berdasarkan pada hasil studi linguistik semata. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau klausa ini dipahami dalam terang konteks historisnya. Sebenarnya inilah yang coba diupayakan oleh Hawthorne ketika ia berbicara dari sudut pandang doa-doa dalam serangkaian kesempatan. Masalah dalam hubungan dengan pendekatan ini adalah apakah pandangan tentang ‘doa-doa dalam serangkaian kesempatan’ memang merupakan faktor historis penting yang harus dipertimbangkan. Bagi penulis, konteks langsung surat Filipi ini lebih relevan untuk digunakan dalam memahami klausa ini. Jika kita memandang bahwa surat Filipi merupakan satu-satunya surat Paulus yang ditulis setelah ia menerima sesuatu dari umat yang menjadi alamat suratnya, adalah mungkin bahwa klausa “epi pasê tê mneia umôn” ini terhubung dengan apa yang diberikan oleh orang-orang Filipi kepada Paulus yang disebut dalam 4:10, atau semua yang telah mereka berikan sebelumnya (bnd. 4:15-18). Dengan begitu, Filipi adalah surat yang diantarai oleh rasa terima kasih Paulus karena ketulusan hati orang-orang Filipi (1:3; juga 4:10-11, 15-18). Alur penafsiran ini diikuti oleh sejumlah kecil pakar pada tahun-tahun terakhir ini. Peter O’Brien, misalnya, memandang bahwa dalam bagian ucapan syukur awal ini, frasa adverbial ayat 3 “epi pasê tê mneia umôn” (dengan penafsiran ‘karena kamu mengingat ’) dan ayat 5 “epi tê koinônia umôn eis to euaggelion” (dengan penafsiran ‘karena persekutuanmu dalam Berita Injil’) adalah dua dari tiga alasan mengucap syukur. Ben Witherington III menerjemahkan ayat 3 dengan “Aku bersyukur kepada Allahku karena kamu selalu mengingat akan aku”, lalu memberi komentar bahwa ‘Paulus di sini berpikir tentang ketulusan hati orang-orang Filipi, karena mereka berulang kali mengambil bagian dalam pemberitaan Injil dengan membantu Paulus dalam bidang keuangan’ (lihat 1 Tesalonika 4:16; 2 Korintus 11:19), dan karena itu Paulus menyinggung apa yang akan ia katakan secara lebih terbuka dalam 4:10. Terjemahan Filipi 1:3 Rasanya pembahasan di atas sudah cukup bagi kita untuk mempertimbangkan kembali cara menerjemahkan ayat ini. Pertama, dibutuhkan catatan kaki untuk terjemahan alternatif, jika kita masih ingin menaruh terjemahan ‘setiap kali aku mengingat kamu’ dalam teks utama. Berdasarkan argumen tadi, saya condong mengusulkan agar terjemahan ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama dan menaruh ‘setiap kali aku mengingat kamu’ sebagai terjemahan alternatif dalam catatan kaki. Saya belum cukup berani mengusulkan untuk mempergunakan terjemahan ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama tanpa terjemahan alternatif, karena di kalangan pakar sekarang ini masih ada yang lebih menyukai pandangan tradisional terhadap ayat ini. Oleh karena belum ada kesepakatan di kalangan para pakar, sifat konservatif penerjemahan Alkitab memang harus mencegah kita dari keberpihakan kepada salah satu dari dua kemungkinan ini. Kedua, jika kita menerima ‘karena kamu mengingat akan aku’ dalam teks utama, kita dapat melihat kesejajaran antara dua klausa epi dalam ayat 3 dan ayat 5 sebagai sejenis paralelisme retorikal untuk menandai dua alasan -- yang berbeda namun saling terhubung -- bagi Paulus untuk mengucap syukur untuk orang-orang Filipi. Pada tingkatan permukaan, alasan yang pertama adalah menyangkut pemberian orang-orang Filipi (barangkali bantuan keuangan) kepada Paulus, sedangkan yang lainnya adalah mengenai persekutuan mereka atau kebersamaan mereka dalam hal pemberitaan Injil. Kedua alasan ini, pada tingkat yang lebih dalam, sesungguhnya saling terhubung karena pemberian kepada Paulus dimaksudkan untuk menolong Paulus menyebarluaskan Injil, dan pada pihak lain, persekutuan dan kebersamaan dengan Paulus mendorong orang-orang Filipi mengirim atau menyediakan bantuan keuangan untuk mendukung Paulus. Karena itu, kesejajaran ini sebaiknya diberi penekanan dalam terjemahan. Tetapi, paralelisme ini barangkali tidak bisa direfleksikan dengan mudah dalam terjemahan, karena ayat 5 tidak mengikuti langsung klausa utama ayat 3 (Aku bersyukur kepada Allahku). Di antara dua klausa epi, ada sisipan ay. 4, sebuah frasa partikel yang memodifikasi klausa utama dalam ayat 3: Aku bersyukur kepada Allahku. Pemecahan yang mungkin dalam hal ini adalah dengan mengulangi klausa utama pada awal ayat 5, jika memang prinsip penerjemahan mengizinkannya. Solusi lainnya bisa jadi adalah dengan menaruh ayat 4 dalam tanda kurung, sehingga pembaca dapat diingatkan pada hubungan yang erat antara ayat 3 dan ayat 5. Tulisan ini dibacakan oleh Kuo-Wei Peng, seorang konsultan United Bible Societies di Taiwan, pada pertemuan ASPRETCON (Asia Pacific Region Translation Consultation) di Kinabalu, Malaysia, Juni 2001. Penerjemahannya dilakukan oleh Pdt. Dr. Wenas Kalangit, konsultan penerjemahan LAI.


Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.