View Full Version: Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera

sarapanpagi >>FILM/ TV SHOW >>Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera


<< Prev | Next >>

BP- 09-12-2005
Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera
Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera Cast : Gerard Butler .... The Phantom Emmy Rossum .... Christine Patrick Wilson .... Raoul Miranda Richardson .... Madame Giry Jennifer Ellison .... Meg Giry Minnie Driver .... Carlotta Director : Joel Schumacher Music : Andrew Lloyd Webber Writer : Gaston Leroux (1868-1927) Screenwriter : Andrew Lloyd Webber, Joel Schumacher REVIEW : Ketika seorang komposer menulis kisah cintanya sendiri, maka ia akan menuliskannya dengan hasrat, jiwa, perasaan dan emosi, total dalam karya tersebut. Dan inilah yang dilakukan oleh Andrew Lloyd Webber. The Phantom of The Opera (TPOTO) merupakan salah satu cerita yang paling sering dipentaskan di berbagai teater di seluruh dunia. The Phantom of the Opera adalah gambaran "kisah cinta" antara Andrew Lloyd Webber dengan Sarah Brightman. Dimana Andrew memposisikan dirinya sebagai The Phantom dan Sarah adalah Christine. The Phantom ini sangat/lebih teropsesi dengan suara "Angelic Voice" Christine ketimbang diri Christine sendiri, dan itulah gambaran dirinya terhadap Sarah Brightman, hubungan kedua insan ini memang unik, ketika mereka harus bercerai tetapi ada sesuatu yang tidak dapat memisahkan mereka yaitu music. Secara umum TPOTO yang dirilis tahun 2004 ini adalah film yang indah untuk dinikmati, baik music, costume, sinematografi, visual effect, alur ceritera yang menghibur. Sutradara/Screenwriter/Producer yang mengawali karir filmnya sebagai “Costume Designer” Joel Schumacher telah menyajikan hasil kerja kerasnya ini dengan apik dan full technology. Skenario film ini ditulisnya bersama-sama dengan Andrew Lloyd Webber. Alur cerita yang mereka sajikan gampang dikuti, tidak seperti film-film TPOTO lainnya yang pernah diproduksi sebelumnya yang lebih banyak menampilkan unsur horor ketimbang musicnya sendiri. Sebelum menonton film ini saya membayangkan Joel Schumacher akan mengemas film ini dengan penuh kekelaman atau kemuraman seperti karyanya di "Batman Forever" 1995, “Batman & Robin” (1997) dan "8mm" 1999, tetapi di TPOTO ini Schumacher menyajikan gambar-gambar yang kaya-warna, penuh pernak-pernik seperti layaknya panggung opera. Schumacher menyajikan musical movie yang lebih manis dan lebih porporsional dibanding "Moulin Rouge" 2001 atau "Chicago" 2002 yang menurut saya 2 film tersebut terlalu banyak “scenery chewing” atau adegan-adegan hiperbola, yang membuat kita enek dengan sinematografi, costume, koreografi dan editing yang ditampilkan. Lain dengan Film TPOTO ini kita disuguhi visual yang “incredibly complicated to explain” dimana cinematic detail nya sangat menarik dan sulit dipilih adegan manakah yang bagus, karena semuanya bagus. Belum lagi kita seolah dibawa kepada emosi dan passion dari kehadiran Opera Ghost itu dengan lagu “The Music of the Night” dsb. Film ini dibuka dengan set tahun 1918 di gedung opera tua di kota Paris. Setahun setelah kematian Christine, Raoul tua menghadiri acara lelang barang-barang kuno di gedung opera itu dan mendapatkan sebuah music box dengan hiasan boneka monyet diatasnya milik The Phantom. Meg Giry yang sudah mengenali Raoul membiarkan lelang music box itu dimenangkan Raoul. Lelang kemudian dilanjutkan dengan penjualan lampu gedung opera, dan disinilah Joel Schumacher dengan manis menampilkan suatu paradoks gambar dari tempat tua dan kumuh menjadi gedung opera indah yang hingar bingar full color dan membawa penonton flash-back 48 tahun sebelumnya (tahun 1870) dan memulai kisah The Phantom of the Opera. Christine digambarkan sebagai pribadi yang larut dan membiarkan dirinya dalam ilusi inkarnasi ayahnya yang telah meninggal, sehingga ia menganggap kehadiran The Phantom adalah “Angel of Music” yang telah mengajarinya bernyanyi. Pertemuannya dengan Raoul di gedung Opera itu membawa pada masa-masa kecil mereka, dan kisah cinta keduanya pun berlanjut. The Phantom digambarkan sebagai seorang yang genius, sebagai seorang musisi/komposer, designer, arsitek dan magician. Gedung Opera itu adalah karyanya yang telah menjadi Artistic Domain. Kejeniusannya ini membawanya kepada kegilaan yang dipicu oleh cacat tubuh pada bagian muka yang dideritanya, rasa marah, rasa terbuang, dan masa kecilnya yang suram serta siksaan-siksaan ketika dia menjadi bahan tontonan untuk sebuah pertunjukan sirkus keliling yang menjulukinya sebagai "The Devil's Child". The Phantom yang telah membuat Christine menjadi penyanyi opera yang mengagumkan menginginkan cinta tulus dari Christine. The Opera Ghost itu akhirnya-pun harus menyerah ketika menyadari bahwa ciuman yang diberikan Christine kepadanya hanyalah cara untuk menyelamatkan nyawa Raoul. Sebuah cara yang mirip ketika Christine mencegah Raoul menghunuskan pedangnya di tubuh The Phantom. Dimana Christine akan melakukan apa saja asalkan The Phantom jangan membunuh lagi. Tetapi kasihnya untuk Christine tak pernah pupus, dan The Phantom pun masih mengunjunginya di kuburannya. Sungguh sayang, film mahal ini tidak mendapatkan oscar satupun di Ajang Academy Award 2005. Bahkan Andrew Lloyd Webber tidak dinominasikan untuk The Best Music (Score), hanya ada 1 nominasi untuknya "The Best Music (Original Song)" inipun Webber harus kalah dengan Jorge Drexler dalam film dari Argentina "The Motorcycle Diaries". Agaknya Webber kurang beruntung di ajang Oscar, walaupun namanya sudah menjadi legenda. Pada tahun 1996 ketika ia mengincar The Best Music (Score) di arena Oscar 1996, Webber kalah dengan Gabriel Yared yang memang mengkomposisi music untuk Film "The English Patient" dengan sangat istimewa. Akhirnya Webber hanya mengantongi kemenangan untuk "The Best Music (Original Song)" film "Evita". Dalam Speech-nya dia mengatakan dengan berseloroh, "terimakasih untuk semua juri oscar yang memilih lagu saya sebagai The best original song untuk film The English Patient" (Karena waktu itu The English Patient memborong Oscar, dan dia sendiri orang Inggris). Dalam kategori Best Music "Score & Original Song" pada Academy Award tahun 2005 ini memang ada kejutan-kejutan ketika Jan A.P. Kaczmarek (Finding Neverland) dan Jorge Drexler (The Motorcycle Diaries) menjadi pemenangnya . Ketika TPOTO tidak masuk dalam bursa nominasi The Best Music Score, saya sendiri menjagokan The Maestro John Williams untuk film "Harry Potter and the Prisoner of Azkaban". Williams seperti biasa mengkomposisi lagu-lagu yang diluar nalar kita, orang satu ini memang "incredible genius", bukan orang biasa, mungkin lebih tepat disebut siluman :). Lagu "Double Trouble" dalam Harry Potter 3 ini merupakan suatu "rare composition" yang hanya bisa digubah oleh seorang genius. Coba anda dengar komposisinya untuk Film Harry Potter 1 yang judulnya "Hedwig’s Theme" sangaaat istimewa, dimana Williams mampu menyajikan komposisi music yang bernuansa gothic tetapi mengandung muatan imajinasi anak-anak, dengan memunculkan sound-sound music box. John Williams adalah salah satu legenda music yang bisa disejajarkan dengan Handel, Mozart dan Beethoven, dan mereka ini memang nabi-nabi music. Komposisi Williams untuk "The Schindler's list" dimainkan dengan sangat apik lewat gesekan biola Itzhak Perlman sehingga membuat pendengarnya pun ikut bersedih dalam sebuah tragedi kemanusiaan, demikian juga komposisinya untuk "Angela Ashes". Williams juga mampu membius kita lewat music-nya dalam adventure-adventure segar Indiana Jones dan Advanture Futuristic misalnya dalam film Star Wars, Artificial Intelligent dan Minority Report. Bahkan membawa kita kepada bermimpi dalam alunan music jazz manis “Moonlight” yang pernah dinyanyikan Sting dalam film Sabrina. Untuk film Minority Report ini, Steven Spielberg memberikan dia penghargaan dengan membayarnya lebih tinggi dari pada actornya sendiri : Tom Cruise. Saya sering berpikir andai saja saya adalah juri Oscar, John Williams bakal setiap tahun saya beri Oscar!. Tapi toh tahun ini Kaczmarek yang menang. Nasip tragis malah dialami oleh nama besar Andrew Loydd Webber karena Score-nya tidak diperhitungkan/ tidak masuk dalam nominasi Oscar tahun ini. Padahal untuk pecinta music sejati pasti akan terhipnotis oleh lagu-lagu dan music latar yang ditampilkannya di film TPOTO 2004 ini. Webber menulis komposisi baru dengan judul "Learn To Be Lonely" dan ditampilkan di Panggung Oscar 2005 bersama penyanyi cantik Beyonce, yang seolah-olah sebagai hadiah hiburan saja bagi Sang Maestro. Blessings, BP April 7, 2005


Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.