View Full Version: DITAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI

sarapanpagi >>AJARAN / DOKTRIN/ AYAT ALKITAB >>DITAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI


<< Prev | Next >>

BP- 03-18-2006
DITAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI
forumer.com/viewtopic.php?p=1548#1548>DITAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI * Matius 5:39-41 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. TR, εγω δε λεγω υμιν μη αντιστηναι τω πονηρω αλλ οστις σε ραπισει επι την δεξιαν σου σιαγονα στρεψον αυτω και την αλλην egô {AKU} de {TETAPI} legô {BERKATA} umin {KEPADA KALIAN} mê {JANGAN} antistênai {MELAWAN} tô {(orang) YANG} ponêrô {JAHAT} all {MELAINKAN} ostis {SIAPA YANG} se {ENGKAU} rapisei {(ia akan menampar)} epi {PADA} tên {YANG} dexian {KANAN} sou {(-mu)} siagona {PIPI} strepson {PALINGKANLAH} autô {KEPADANYA} kai {DAN} tên {YANG} allên { LAIN} 5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. TR, και τω θελοντι σοι κριθηναι και τον χιτωνα σου λαβειν αφες αυτω και το ιματιον kai {DAN} tô {(kepada orang)YANG} thelonti {MENGHENDAKI} soi {ENGKAU} krithênai {DIHAKIMI} kai {DAN} ton chitôna {BAJU (yang dipakai didalam jubah)} sou {(-mu)} labein {MENGAMBIL} aphes {BIARKANLAH} autô {DIA (ambil)} kai {JUGA} to imation {JUBAH (itu)} 5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. TR, και οστις σε αγγαρευσει μιλιον εν υπαγε μετ αυτου δυο kai {DAN} ostis {SIAPA} se {ENGKAU} aggareusei {(ia akan memaksamembawa barang)} milion {MIL} en {SATU} upage {PERGILAH ENGKAU} met {BERSAMA} autou {DIA} duo {DUA } Tiga inti ajaran Yesus Kristus dalam Matius 5:39-41 sebagai berikut: 1. Murid Tuhan tidak boleh mendendam atau berusaha mengadakan pembalasan terhadap penghinanaan, meskipun penghinaan itu disengaja atau membahayakan hidupnya. 2. Murid Tuhan tidak boleh mengandalkan hak hukum atau hak-hak lain yang mungkin dimilikinya, hal ini diumpamakan dengan baju dan jubah. 3. Murid Tuhan tidak boleh mengutamakan haknya untuk melakukan sesuatu sekehendak hatinya,melainkan harus selalu mengutamakan tugasnya untuk menolong orang lain, hal ini diilustrasikan dengan berjalan satu mil menjadi dua mil. ----- Ayat 39 adalah yang paling sering dipertanyakan. Untuk memahami Alkitab diperlukan beberapa hal, pertama konteks, kedua konteks, ketiga konteks, dan keempat konteks. Konteks ini pula seyogianya dihubungkan dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab karena Alkitab adalah satu kesatuan, tidak terdiri dari satu ayat saja. Allah itu tidak terbatas dan bahasa manapun tidak dapat mengungkapkan bagaimana penyataan atau kehendak Allah yang sebenarnya, namun patut disyukuri bahwa Allah berkenan menggunakan bahasa manusia yang terbatas itu. Meng'eksegesis' (memahami berita Alkitab) yang baik adalah mengkaji apa maksud penulis Alkitab yang sebenarnya, bukan apa maksud "saya", apalagi jika maksud saya tadi dimasukkan dan diterapkan ke dalam Alkitab. Memang banyak ungkapan-ungkapan tertentu di dalam Alkitab yang diartikan secara literal, kata demi kata, namun ada kalanya suatu ayat harus diartikan secara lambang, alegoris, metafora, dll. Misalnya Alkitab menulis bahwa Tuhan adalah "sandaran" ("misy'ân") alias "penopang", apakah kita menganggap bahwa Tuhan Allah adalah sandaran kursi? Jika Alkitab menulis Tuhan adalah "perisai", "benteng", "menara", bahkan ada tulisan tentang Allah itu "tidur", apakah harus diartikan secara harfiah? Ada yang bertanya kepada saya tentang ungkapan "Allah menyesal", lantas saya tanggapi lewat pertanyaan, bukan balas bertanya. Apakah Allah punya perasaan? Jika tidak, berarti Dia bukan Allah, melainkan batu atau apa saja yang dapat dikategorikan sebagai tidak punya perasaan. Jika ya, apakah perasaan Allah jika seandainya manusia itu menuruti firman-Nya, berbuat sesuai dengan kehendak-Nya? Apakah Allah bersukacita, bersorak-sorai, tersenyum, tertawa, atau bahkan jingkrak-jingkrak kegirangan? Bagaimana pula jika manusia tadi berbuat sebaliknya, memperkosa hukum-Nya, murtad, dan melakukan tindakan-tindakan yang negatif? Apakah Allah menangis, murka, geram, mencucurkan air mata? Bahasa manapun tidak akan mampu mengungkapkan "perasaan" Allah tadi. Oleh karena itu dipergunakanlah istilah-istilah manusiawi ('anthrôpomorphisme') seperti "menyesal", "bersedih", "kecewa". Demikian pula jika Yesus Kristus berkata, 'egô eimi ê ampelos ê alêthinê', "Aku adalah pokok anggur yang benar", kita tidak akan menganggap bahwa Yesus Kristus benar-benar sebagai pokok anggur. Ungkapan tentang "memberikan pipi" juga kita temukan di dalam Perjanjian Lama: * Ratapan 3:30 "Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan." – "YITÊN LEMAKÊHÛ LEKHÏ YISBA' BEKHERPÂH" Di sini kita temukan 'paralelisme' Ibrani yaitu kesejajaran (bukan pertentangan dan/atau perbedaan) antara baris pertama dengan baris kedua. Bahwa memberikan pipi kepada yang menampar ibarat penuh dan kenyang dengan cercaan. Yesus mengatakan, bahwa kalau ada orang menampar pipi kanan kita maka kita harus memberikan pipi kiri kita juga. Makna yang terkandung di dalam perkataan ini jauh lebih mendalam ketimbang tindakan yang nampak secara kasat mata mempermalukan seseorang. Seandainya ada orang yang ingin menampar pipi kanan orang lain yang berdiri di depannya dengan tangannya. Bagaimanakah ia bisa melakukannya? Kalau orang tersebut ingin langsung menampar secara memuaskan, maka tidak ada jalan lain kecuali memakai bagian belakang dari telapak tangan kanannya. Menurut hukum rabinis Yahudi, menampar orang dengan memakai bagian belakang telapak kanan mengandung arti penghinaan dua kali lipat ketimbang kalau menampar dengan telapak tangan saja. Jadi yang dimaksudkan oleh Yesus ialah, meskipun ada orang yang dengan sengaja menghina kita dengan hinaan yang paling berat dan menyakitkan, kita sama sekali tidak boleh membalas atau mendendam. Kalau ada seorang Kristen ditampar pipi kanan terus memberikan pipi yang sebelah lagi, ybs. adalah bodoh dan tidak memahami ajaran Yesus Kristus yang sebenarnya. Yesus Kristus sendiri tidak berbuat demikian tatkala ditampar, kita kaji ayat ini : Yohanes 18:22-23 18:22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?" 18:23 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?" Yesus Kristus pun sering menggunakan paralelisme, ungkapan kedua merupakan penjelasan dari ungkapan yang pertama seperti yang kita temukan dalam Matius 5:39. Masih dalam fasal yang sama, hanya berbeda 10 ayat sebelumnya kita temukan ungkapan ini: * Matius 5:29 "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." – ei de o ophthalmos sou o dexios skandalizei se exele auton kai bale apo sou sumpherei gar soi ina apolêtai en tôn melôn sou kai mê olon to sôma sou blêthê eis geennan Lantas, jika seseorang (Kristen) merasa bahwa matanya menyesatkannya, apakah ia harus mencungkil matanya tadi? Jika demikian halnya -- seluruh perkataan Yesus Kristus diartikan secara harfiah – niscaya banyak orang (Kristen) yang bakal buta, buntung baik kaki maupun tangannya. Dalam Matius 5:39 itu, Yesus Kristus mengajar agar kita tidak mendendam atau berusaha melakukan pembalasan. Mungkin anda tidak pernah ditampar seseorang (kalau pun ada) mungkin tidaklah sering. Tetapi mungkin diantara kita ada yang sering menghadapi hinaan, baik besar atau kecil. Dalam hal seperti itu Yesus mengatakan, bahwa murid yang sejati tidak akan mendendam atau membalas penghinaan apapun yang diterimanya. Yesus sendiri pernah dihina sebagai orang yang rakus dan pemabuk. Ia pernah disebut sebagai sahabat pemungut cukai dan pelacur. Ia dipersamakan dengan mereka itu. Orang-orang Kristen purba pun pernah disebut sebagai peminum darah, penghasut (istilah sekarang provokator), tak bermoral, jorok, dan tak tahu malu, karena mereka melakukan Pesta Kasih di dalam ibadah-ibadah mereka. Jangankan di dalam masyarakat, di dalam gereja pun diantara orang-orang Kristen sendiri, sering terjadi hina-menghina seperti itu, baik secara langsung maupun tidak. Ada anggota gereja yang menghina anggota lain karena iri hati, merasa tersingkirkan, kalah, dan sebagainya. Dan ada pula anggota gereja yang merasa dihina, karena merasa tidak diberi tempat atau kesempatan untuk ikut serta dalam hal-hal yang dianggapnya penting. Yah, ada juga orang Kristen yang lupa makna penghinaan itu. Sebagai murid Tuhan Yesus Kristus seyogianya kita harus selalu belajar dari Guru kita untuk menerima penghinaan apa saja serta untuk tidak mendendam atau berusaha melakukan pembalasan. Bagi murid-muridNya, Yesus menyempurnakan hukum lama yang berisi pembalasan dendam. Sebagai gantinya Ia memperkenalkan hukum baru dengan semangat yang baru, di mana tidak berlaku dendam atau pembalasan. Ia memberikan beberapa contoh semangat Kristiani seperti yang berlaku di dalam kenyataan hidup. Jika contoh-contoh itu dipahami secara bebas sembarangan, maka pasti tidak akan dapat menangkap makna yang sebenarnya. Oleh karena itu dirasakan perlu untuk memahami secara benar perkataan Yesus itu. Amin Dikutip dari : Yohannes/ Biblika


Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.