View Full Version: JANGAN MEMBAWA KAMI KEDALAM PENCOBAAN

sarapanpagi >>AJARAN / DOKTRIN/ AYAT ALKITAB >>JANGAN MEMBAWA KAMI KEDALAM PENCOBAAN


<< Prev | Next >>

BP- 05-05-2006
JANGAN MEMBAWA KAMI KEDALAM PENCOBAAN
JANGAN MEMBAWA KAMI KEDALAM PENCOBAAN TANYA : Apa arti kalimat "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus? Bukankah Yak 1:13 mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun? JAWAB : * Matius 6:13 "dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)" – kai mê eisenegkês êmas eis peirasmon alla rusai êmas apo tou ponêrou oti sou estin ê basileia kai ê dunamis kai ê doxa eis tous aiônas amên Ada beberapa konsep yang perlu ditelaah: Pertama, bagi banyak orang masa kini kata "menggoda" sering dianggap kurang baik karena kata ini selalu berarti "berusaha menggota atau membujuk untuk berbuat jahat". Di dalam Alkitab -- khususnya Perjanjian Baru -- hanya ada satu kata saja untuk itu yaitu 'peirazô', kata bendanya 'peirasmos' yang diterjemahkan dengan "pencobaan". Di dalam Perjanjian Baru, kata 'peirazô' dipakai bukan dalam arti menggoda seseorang agar berbuat jahat, melainkan lebih dalam lagi karena mencakup makna menguji atau mencoba ketahanan, kesetiaan serta kecakapannya untuk pekerjaan pelayanan. Beberapa contoh: * Matius 4:1 "Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai ('peirazô') Iblis." tote o iêsous anêchthê eis tên erêmon upo tou pneumatos peirasthênai upo tou diabolou * Matius 16:1 "Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai ('peirazô') Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka." kai proselthontes oi pharisaioi kai saddoukaioi peirazontes epêrôtêsan auton sêmeion ek tou ouranou epideixai autois Jika kita membaca cerita pencobaan Yesus di padang gurun, kita temukan kata 'peirazô'. Jika kata "dicobai" di situ kita pahami dalam arti dibujuk untuk berbuat dosa, tentulah tidak tepat. Di dalam Alkitab, kita akan sering menjumpai kata "mencoba" ('peirazô' dalam segala bentuknya) bukan utamanya dalam arti membujuk untuk berbuat dosa, melainkan dalam arti menguji. Jadi, inilah konsep pertama tentang "pencobaan" yaitu bukan dimaksudkan agar kita jatuh, melainkan agar kita menjadi orang-orang yang lebih kuat dan lebih baik. Bukan dimaksudkan agar kita menjadi orang-orang berdosa, melainkan sebaliknya. Kita mungkin gagal di dalam ujian atau pencobaan itu, tetapi tujuan utamanya bukanlah agar kita gagal. Kedua, adalah kenyataan hidup yang pahit dan tragis, bahwa pencobaan itu justru datang dari orang yang mengasihi kita. Inilah pencobaan yang paling berat untuk dilawan. Ada orang yang mungkin merasa terpanggil untuk melakukan tugas tertentu, tetapi untuk melakukan hal itu ia akan menanggung akibat kehilangan popularitas, karena tugas tersebut memang tidak umum dan tidak akan membawa popularitas. Dalam keadaan seperti itu, mungkin terjadi, bahwa orang-orang yang mengasihinya berdatangan dan memberikan nasehat serta membujuknya untuk tidak memilih tugas itu. Akhirnya orang itu tetap memilih melakukan tugas yang dipandangnya benar dan harus dikerjakan. Contoh ayat: * Matius 10:36 "dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya." kai echthroi tou anthrôpou oi oikeiakoi autou Inilah pencobaan yang paling pahit yang justru datang dari suara kasih. Ketiga, pencobaan yang datang dari dalam diri sendiri. Di dalam diri kita ada beberapa titik lemah dan pada titik-titik itulah pencobaan mengarahkan serangannya. Kekuatan dan kelemahan seseorang tidak sama dengan orang lain. Ada orang yang sangat lemah sehingga pencobaan yang kecil saja sudah menggugurkannya. Ada pula orang yang kuat, sehingga pencobaan yang besar tidak mampu melumpuhkannya. Namun demikian, tetap saja ada titik-titik lemah yang jika tidak diawasi akan berakibat fatal. Oleh karena itulah Yesus Kristus mengajar kita berdoa, "janganlah membawa (memimpin) kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." Intinya adalah "penyertaan" Tuhan. Kehadiran dan penyertaan Yesus Kristus dalam hidup kita menyebabkan kita memiliki pertahanan yang paling kuat untuk melawan pencobaan yang ingin melumpuhkan kita, atau pun pencobaan yang menguji daya tahan kita. Selanjutnya, karena doa yang diajarkan itu berhubungan antara "pencobaan" ('peirasmos') dan "jahat" ('poneros'), tentu yang dimaksud bahwa setiap orang percaya merupakan sasaran khusus dari permusuhan Iblis dan maksudnya yang jahat. Oleh karena itu, kita sekali-kali tidak boleh lupa untuk berdoa agar kita dibebaskan dari kuasa dan rencana jahatnya. Satu ayat lagi, barangkali dapat Anda pelajari sendiri apa makna yang terkandung di situ. * Lukas 22:40 "Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: 'Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.'" genomenos de epi tou topou eipen autois proseuchesthe mê eiselthein eis peirasmon ----- Sedangkan mengenai ayat dalam Yakobus, kita baca selengkapnya : Yakobus 1:12-15 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. makarios anêr os upomenei peirasmon oti dokimos genomenos lêpsetai ton stephanon tês zôês on epêggeilato o kurios tois agapôsin auton 1:13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Mêdeis {JANGANLAH SATUPUN} peirazomenos {KETIKA DIGODA} legetô {MENGATAKAN} oti apo {OLEH} tou theou {ALLAH} peirazomai {AKU DIGODA} o gar {SEBAB} theos {ALLAH} apeirastos {YANG TIDAK DAPAT DIGODA} estin {ADALAH} kakôn {OLEH HAL-HAL YG JAHAT} peirazei {IA MENGGODA} de {MAKA} autos {SENDIRI} oudena {TIDAK SATU (orang) PUN} 1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. ekastos de peirazetai upo tês idias epithumias exelkomenos kai deleazomenos 1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. eita ê epithumia sullabousa tiktei amartian ê de amartia apotelestheisa apokuei thanaton Yakobus menulis surat khususnya pasal 1:12-15 agar pembacanya sadar terhadap pencobaan. Perawaan tawar hati disebabkan hebatnya pencobaan menimbulkan pertanyaan tentang asal-usul pencobaan itu, bahkan ada yang berdalih bahwa ia merasa terbujuk oleh kejahatan. Perhatikan bagian pertama Yakobus 1:13, "Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: 'Pencobaan ini datang dari Allah!'". Coba Anda ganti kata "pencobaan" menjadi "dosa", tentu saja bukan dengan maksud mengubah isi Alkitab melainkan untuk menelaah lebih lanjut makna kalimat yang ada. Jika kita ganti kata "pencobaan" itu menjadi "dosa" sehingga berbunyi "dosa ini datang dari Allah". Sedangkan ungkapan dalam Matius 6:13, "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan", 'mê {tidak} eisenegkês {engkau memimpin} êmas {kami} eis {ke dalam} peirasmon {pencobaan}', tidak berdiri sendiri melainkan masih berlanjut dengan bagian berikutnya yaitu "tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat", 'alla {melainkan} rusai {lepaskanlah Engkau} êmas {kami} apo {dari} tou {yang} ponêrou {jahat}'. Jelas bahwa "pencobaan" (Yunani 'peirasmos') berkaitan erat dengan "kejahatan" ('ponêros'), apalagi karena dihubungkan dengan konjungsi (kata sambung) 'alla' yang berfungsi mempertentangkan dua konsep. Saya kutip pemakaian kata sambung 'alla' ini dalam beberapa ayat sebagai contoh: "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi ('alla') dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4) "orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan ('alla') di atas kaki dian ..." (Matius 5:15) "Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan ('alla') untuk menggenapinya." (Matius 5:17) "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan ('alla') siapapun yang menampar pipi kananmu..." (Matius 5:39) Dari empat contoh di atas, jelas terlihat bahwa kita tidak dapat memenggal kalimat hingga pada kata 'alla' karena kalimat sesudah kata 'alla' justru memperjelas makna. * 1 Korintus 10:13 "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." peirasmos umas ouk eilêphen ei mê anthrôpinos pistos de o theos os ouk easei umas peirasthênai uper o dunasthe alla poiêsei sun tô peirasmô kai tên ekbasin tou dunasthai umas upenegkein Tidak ada seorang pun yang berbuat dosa dapat mengabaikan kesalahannya dengan menimpakannya kepada Allah. Allah mungkin menguji kita supaya menguatkan iman kita, tetapi tidak pernah untuk menuntun kita ke dalam dosa. Tabiat Allah menunjukkan bahwa Dia tidak dapat menjadi sumber pencobaan untuk berbuat dosa. Amin. Sumber : Yohanes/Biblika dan beberapa sumber lain


Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.