View Full Version: JESUS SEMINAR

sarapanpagi >>KRISTOLOGI >>JESUS SEMINAR


<< Prev | Next >>

BP- 10-31-2005
JESUS SEMINAR
JESUS SEMINAR ----- Mempersoalkan YESUS SEJARAH Oleh : Herlianto YESUS. Siapakah dia ini sehingga namanya ramai dibicarakan di seluruh dunia dan sejarah dihitung waktunya secara populer dan dikaitkan dengan namanya dan kelahiran semua pemimpin spiritual dan sekular di dunia dikaitkan tahunnya dengan tahun kelahiran Yesus? (BC = before christ & AD = anno domini). Kebangkitan Yesus sebagai juruselamat manusia juga menghasilkan lambang salib yang digunakan sebagai lambang bendera Swiss dan kemudian oleh Henri Dunant digunakan sebagai lambang palang merah yang bila ada yang datang dengan tanda ini berarti pengharapan hidup dan keselamatan datang? Suatu kebetulan atau ada unsur kebenaran sejarah dibaliknya? Soalnya, negara-negara Arab syak terhadap tanda ini dan menggantinya dengan tanda Bulan Sabit (Red Crescent). Namun, sepanjang sejarah nama itu juga banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca banyak orang, tetapi sekaligus nama itu tetap disebut, dipercaya dan dimuliakan banyak orang pula. MASA HIDUP YESUS Sejak kelahirannyapun Yesus tidak dianggap istimewa oleh lingkungannya, orang Farisi pernah menyebutnya pesuruh 'Beelzebul' penghulu setan (Mat.12:24) dan ketika akan disalib ia di olok-olok dan dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh bernama 'Barabas' (Mat.27:21). Di kalangan orang kebanyakan, Yesus disebut sebagai 'Yohanes Pembaptis, Elia atau Yeremia' (Mar.8:27), tetapi banyak juga yang menyebutnya 'Tuhan'. Keragu-raguan akan siapa Yesus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-murid Yesus. Thomas 'meragukan kebangkitannya' (Yoh.20:25), dan Yudaslah yang menyerahkan Yesus untuk di salib. Tetapi, menanggapi pertanyaan Yesus yang berbunyi "siapakah Aku ini?" , dengan yakin Petrus yang pernah menyangkali Yesus sampai tiga kali mengatakan "Engkau adalah Messias, Anak Allah yang hidup." (Mat.16:15-16). Para Rasul lainnya juga berlandaskan ajaran mereka pada Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Yesus sebagai fondasi iman Kristen: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (Ikor.15:17). SEPANJANG SEJARAH GEREJA "Itu kan kata Alkitab" kata sebagian orang, dan gema komentar ini terus timbul sepanjang sejarah gereja di tengah mayoritas umat Kristen yang tetap mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan. Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai 'Yesus Sejarah' yang disebut Alkitab, bahkan kemudian sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab oleh Teologia Liberal sejak abad ke XVIII, pada abad ke-XIX dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan) ramailah dipersoalkan soal 'Yesus Sejarah' terutama oleh David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer dan Joseh Ernst Renan, ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang dikenal dengan 'demitologi'sasinya itu pada medio abad ke-XX. Strauss mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan Reimarus menyebutnya sebagai mitos. Albert Ritschl menjadikan etika Yesus sebagai jantung keristenan, Adolf Harnack menyebut Yesus sebagai manusia pembawa damai bagi orang lain, Albert Schweitzer menolak liberalisme lama yang mengabaikan unsur eskatologis Yesus tetapi ia juga menolak mujizat. Faham anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'nya itu. Pada umumnya kritik-kritik itu berkisar pada penolakan akan hal-hal yang bersifat supra-natural disekeliling sejarah Yesus terutama soal kelahirannya dari anak dara, mujizat yang dilakukan dan kebangkitannya, sehingga ketuhanan Yesus ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar menjadi manusia biasa yang mengalami pergumulan sosial dan politik di Palestina di abad pertama. Dirintis Ernst Kasemann murid Bultmann dari Jerman, dimulailah 'The New Quest' (penyelidikan baru) yang memuncak dalam apa yang disebut 'Jesus Seminar' di Amerika Serikat dengan tokoh a.l. Robert Funk dan John Dominic Crossan. Ini disusul dengan 'The Third Quest' (penyelidikan ketiga) dengan tokoh-tokohnya a.l. Marcus Borg dan E.P. Sanders. Banyak teolog-teolog demikian menyebut 'Yesus sebagai pemimpin dan pemberontak Yahudi yang gagal'. Perbedaan penting masa 'the quest' dengan 'the new & third quests' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak, sedangkan dalam penyelidikan-penyelidikan berikutnya justru kebenaran kitab Injil itulah yang ditolak dan dinilai dari pemikiran rasionalisme, kitab apokrifa atau rekaan manusia modern. Kritik-kritik demikian berjalan terus dan sejalan dengan era informasi sejak tahun 1960-an, mass mediapun termasuk Film, TV, Radio, Majalah, Surat Kabar& Internet dijadikan sarana untuk menyebar-luaskan keragu-raguan akan Yesus Sejarah. YESUS DALAM ERA INFORMASI Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus, dan ini memuncak pada pertengahan tahun 1980-an dengan aktipnya Jesus Seminar di Amerika Serikat yang mempopulerkan keragu-raguannya melalui mass media dengan intensip. Di tahun 1960-an terbit sebuah buku yang kemudian difilmkan di tahun 1970-an dengan judul 'Jesus Christ Superstar' karya Tim Rice dan Andrew Lord Weber yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai seorang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan. Di tahun 1980-an terbit pula karya Nikos Kazantzakis yang difilmkan dengan judul 'The Last Temptation of Christ' dimana disamping skandal Yesus dengan Maria Magdalena yang dipertunjukkan disitu dan usaha Yesus yang ingin melepaskan diri dari 'godaan terakhir' kepuasan seksualnya di kayu salib, Yesus mengucapkan:: "Aku seorang penipu, aku seorang munafik, aku takut akan segala sesuatu ... Lucifer ada di dalam diriku." Memang Martin Scorsese yang menyutradarai film tersebut pada awal film menyatakan bahwa 'Film ini tidak didasarkan kitab-kitab Injil tetapi cerita fiksi tentang pertentangan rohani yang kekal,' namun film itu tidak terhindarkan telah menjadi film yang meng-olok-olok Yesus dan kekristenan. Tragisnya beberapa pendeta termasuk yang ada di Indonesia ikut mempromosikan film tersebut. Puncak dari promosi perendahan Yesus itu terjadi ketika pada tahun 1985 ada sekelompok teolog Amerika Serikat merintis apa yang disebut sebagai "Jesus Seminar". Ini disambut mass media ketika hasil seminar itu dibukukan pada tahun 1993. Midwest Today, sebuah majalah dalam edisi Maret 1994 mengangkat masalah ini dengan judul 'Debate Rages Over the Jesus Seminar' dengan sub-judul berbunyi: "Ketika 77 ahli Alkitab menyebut bahwa 80% dari yang dianggap ucapan Yesus dalam Alkitab sebenarnya tidak diucapkan Yesus, kepanikan menyebar." Majalah Time dalam edisi Paskahnya (8 April, 1996) memperkenalkan soal Jesus Seminar ini secara internasional dengan judul 'The Gospel Truth' dengan sub-judulnya: "Yesus Seminar yang provokatif mengemukakan bahwa tidak banyak bagian Perjanjian Baru dapat dipercaya. Bila demikian, apa yang dipercaya orang Kristen?" Film mutakhir yang sedang dipersiapkan oleh Paul Verhoeven (peserta Jesus Seminar dan sutradara film Basic Instinct, Showgirls dan Robocop) dan Sharon Stone (pemain film Basic Instinct) adalah tentang Yesus dalam kemanusiaannya yang penuh yang berpacaran dengan Maria Magdalena. Masalah studi 'Yesus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog, dalam era informasi yang dipacu oleh pemuatan di surat kabar, majalah dan TV, dan buku-buku telah mencuat menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang kontroversial lebih-lebih dengan berita-berita provokatif seperti di atas, apalagi dengan terbitnya buku-buku 'pop-Yesus Sejarah' seperti karya John Shelby Spong yang menyebut Maria diperkosa dan melahirkan Yesus, Barbara Thiering menyebut 'Yesus menikah dengan Maria Magdalena, bercerai, kawin lagi dengan Lydia dan kemudian mempunyai tiga anak' sedang Crossan mengatakan bahwa 'Yesus mati disalib dan mayatnya dimakan anjing', sedang Michael Baigent menyebut Yesus tidak mati di salib kemudian lari dan menetap di Perancis Selatan, dan adapula yang menyebutnya lari ke Kashmir. Di internet sekitar 400.000 bahan dibawah judul 'Jesus Seminar' bisa ditelusuri dan di Indonesia di toko-toko buku asing yang sekarang mulai beroperasi di mal-mal di kota-kota besar di Indonesia, dijual buku-buku mengenai 'Yesus Sejarah' terbitan luar negeri seperti antara lain tulisan Jesus Seminar, John Dominic Crossan, dan Barbara Thiering yang sekalipun tidak bergabung dengan Jesus Seminar tetapi mempunyai misi serupa. JESUS SEMINAR 'Jesus Seminar' diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993). Pada bagian awal halaman v buku itu kita dapat melihat kemana arah nafas seminar tersebut: "Laporan ini dipersembahkan kepada Galileo Galilei yang mengubah pandangan kita mengenai surga selamanya. Thomas Jefferson yang menggunakan gunting dan memotong-motong Kitab Injil. David Friedrich Strauss yang mempelopori penyelidikan mengenai Yesus Sejarah." Seminar ini diketuai Robert W Funk, ahli Perjanjian Baru profesor pada Montana University, dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab dan profesor pada De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan dikatakan bahwa 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab. Buku itu selain berisi hasil seminar juga memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Dan karena para pengikut seminar mempercayai teori Injil Markus sebagai kitab Injil tertua, maka Injil Markus diletakkan di depan kemudian disusul Injil-Injil Matius, Lukas dan Yohanes dan baru Injil Thomas. Terjemahan ini disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dan yang dianggap merupakan versi untuk bisa dengan mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern dengan versi yang dikatakan sebagai paling dekat dengan apa yang bisa didengar oleh jemaat abad pertama. Aktivitas seminar adalah: Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang mungkin dikumpulkan. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui. Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara (voting) oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang: (1) Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri; (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan; (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus; dan (4) Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya. Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan sejarah kehidupan Yesus. Selain itu, Jesus Seminar mencoba untuk memperjelas pemisahan antara 'Yesus Sejarah' dan 'Yesus Iman,' termasuk di dalamnya mengenai Inspirasi dan ketidak bersalahan (Inerrancy) Alkitab dan pembedaan Yesus (ke-manusia-an) dari Kristus (ke-Tuhan-an), dan beberapa masalah dibahas seperti sumber-sumber dan hubungan antar kitab Injil, tempat Injil Thomas sebagai Injil ke Lima, dan soal tradisi ucapan Yesus. Yang menarik dari metodologi penyimpulan yang digunakan adalah cara voting, dengan kata lain kebenaran ucapan Yesus ditentukan hanya dengan pemungutan suara mayoritas 'responden' puluhan peserta yang hadir. Hanya beberapa puluh orang yang menentukan mana ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil itu yang dapat dikata asli, mungkin asli, mungkin tidak asli, dan tidak asli. Dari komposisi responden dan angket demikian jangan heran kalau keluar kesimpulan bahwa '82 persen ucapan dalam kitab-kitab Injil bukan ucapan Yesus. ' menarik pula melihat hasil-hasil angket tersebut. Dalam 'Injil Markus' yang dianggap sumber Matius dan Lukas, hanya ada satu yang dianggap ucapan asli Yesus (12:17), padahal 'Injil Matius' ada 5 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (5:39-42,44; 6:9;13:33; 20:1-15) dan dalam 'Injil Lukas' malah ada 7 ayat atau kumpulan ayat yang dianggap asli diucapkan oleh Yesus (6:20-21,27,29-30; 10:30-35;11:2;13:20). Jadi jangan heran kalau 'Kotbah di Bukit' (Matius 5-7) hampir seluruhnya dianggap bukan ucapan Yesus (kecuali 5:39-42, dan sebagian dari 5:44, dan doa Bapa kami hanya kata 'Bapa kami' dalam 6:9-lah yang diberi warna merah), lagipula ayat Matius 28:19-20 yang merupakan ayat yang berisi 'Amanat Agung Tuhan Yesus' malah dianggap sama sekali tidak asli (diberi warna hitam), malah, dalam 'Injil Yohanes' tidak ada yang bisa dianggap sebagai ucapan Yesus yang asli dan hanya satu yang disebut sebagai 'mungkin' (4:44) yang diberi warna merah muda. Jadi motivasi dan misi Jesus Seminar jelas terlihat ditujukan untuk membungkam Yesus dan kitab-kitab Injil, Yesus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', ia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, ia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, ia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan ia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa kitab 'Thomas', dari 114 fasal, hanya ada 6 ayat dalam tiga fasal (20:2-4; 54:1, dan 100:2-3) yang dianggap asli ucapan Yesus! dan ini dianggap Injil yang lebih berotoritas dan dianggap sumber kitab-kitab Injil kanonik. Dapatkah kesimpulan angket demikian diterima keabsahannya? Pembaca dapat menyimpulkannya sendiri. Yang jelas, kesimpulan demikianlah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan gereja, dan hanya pembaca kritis yang mau menyelidiki apa yang ada di balik pernyataan-pernyataan itulah yang bisa mengetahui lika-liku yang dianggap 'the scholars version' tersebut. Kenyataan lain adalah bahwa sekalipun mungkin memilih sama dalam voting, para peserta yang terlibat tidak selalu berfikir sama mengenai hal-hal yang dipercaya. Sebagai contoh, Crossan mengatakan bahwa 'Yesus Funk' beda dengan Yesusnya, dan dalam buku 'The Five Gospels' disebutkan oleh Funk mengenai Marcus Borg bahwa sepanjang sejarah seminar, Borg tidak pernah ikut voting bersama mayoritas atas setiap isu. Hal lain lagi yang perlu direnungkan adalah apa pandangan iman dan teologis yang bisa diharapkan dari seorang Paul Verhoeven sutradara film mistik ‘Robocop’ dan film porno ‘Basic Instinct‘ dan ‘Showgorls’ yang dengan bintang Sharon Stone pemain 'Basic Instinct' sedang membuat film Yesus yang benar-benar hanya seorang manusia (seperti pemuda modern) yang di dalamnya berpacaran dengan Maria Magdalena? Makalahnya Verhoeven berjudul 'Fully Human' disampaikan pada forum Jesus Seminar yang di tahun 1994 dimana pada saat yang sama Jesus Seminar menyimpulkan bahwa 'Jesus tidak dilahirkan dari anak dara Maria, Yesus lahir dalam proses sebagai layaknya manusia biasa'. Disebutkan pula dalam prakatanya bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut sebagai dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropah dan Amerika Serikat. Dalam kenyataannya, kecuali Marcus Borg, Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, umumnya anggota lainnya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang diwakili, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, Emory maupun Chicago, tidak ada yang diwakili. Para ahli Perjanjian Baru dari Eropah dan benua lain juga tidak ada yang diwakili. Lepas dari itu sebenarnya para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi. Kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia. Para peserta yang hadir tidak ada yang mewakili seminari teologia sekalipun mereka mengajar di sana lebih-lebih seminari teologia papan atas, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi. Sekalipun yang hadir pertama kali disebut berjumlah 30 orang dan dikatakan kemudian diikuti 200 orang lainnya, kenyataannya berita itu dibesar-besarkan. Faktanya yang hadir dalam pertemuan tengah tahunan itu rata-rata hanya sekitar 30 orang saja. Dalam buku 'The Five Gospels' (1993) yang ditulis setelah 8 tahun berdirinya Jesus seminar, hanya disebutkan daftar 76 orang yang terlibat. Sekalipun Funk pernah menjadi sekertaris pada 'Society of Biblical Literature' (SBL) di Amerika Serikat, Jesus Seminar tidak ada hubungan sama sekali dengan SBL. Karena itu dengan melihat angka-angka peserta di atas adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu sebagai mewakili dunia teologi mengingat bahwa SBL saja mempunyai anggota sejumlah 6.900 orang yang setengahnya spesialis Perjanjian Baru, dan ini belum termasuk tokoh-tokoh Alkitab di luar SBL atau yang bergabung dalam paguyuban ahli-ahli Perjanjian Baru sedunia 'Studiorum Novi Testamenti Societas'. Kelihatannya para ahli yang berkumpul adalah mereka dikenal merupakan kelompok teolog yang memang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen, dan sekalipun pengaruhnya menyebar luas, ternyata setelah lebih dari 10 tahun sejak tahun 1985, Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami pendewasaan pula. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka. Dari ucapan penemu 'Jesus Seminar' Robert W. Funk, kita dapat melihat bahwa memang motivasi dan tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Yesus dan Injil yang berbeda dengan cerita Injil tradisional. Ia mengatakan: "Apa yang kita butuhkan adalah cerita fiksi yang baru yang membawa kita menuju kejadian sentral drama Kristen-Yahudi dan merujukkan Mesias dengan cerita baru yang mencakup hal lebih besar daripada awal sampai akhir cerita lama. Kita memerlukan cerita baru tentang Yesus, Injil yang baru, bila kamu mau, menempatkan Yesus berbeda dalam kerangka besar cerita kepahlawanan." Sebenarnya hal ini tidak aneh, soalnya sejak awal dan bertahun-tahun sebelumnya kedua pendiri dan ketua Jesus Seminar yaitu Funk dan Crossan sudah mempunyai gagasan kontroversial dan provokatif, itu pula yang menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya di gereja Roma Katolik. Jadi adanya Jesus Seminar bukanlah untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi lebih untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat memang mudah dijual. Karena itu dengan datangnya modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota memang mass media sengaja diundang untuk meliput bahkan wawancara diberikan. Sebenarnya di Amerika Serikat ada banyak badan-badan yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan alibi Yesus Sejarah tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media pada masakini (ingat berita skandal seks Clinton yang berkepanjangan). Dalam alam sekular semacam Amerika Serikat dimana 'kotbah untuk bertobat dan hukuman kekal' sangat dimusuhi dapat dimengerti kalau seminar yang menyimpulkan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan dan menyuruh manusia untuk bertobat tentu akan laku keras. Kelemahan besar dari metoda penyelidikan Jesus Seminar adalah hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, inipun dengan maksud untuk dibandingkan dengan kitab-kitab Apokrifa yang dianggap lebih berotoritas, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid Yesus. Demikian semua ucapan yang dianggap sudah berkembang harus dihapus. Kanon yang sudah menjadi dasar ajaran iman gereja selama duapuluh abad tidak mendapat tempat selayaknya dalam seminar karena isinya dianggap hanya mengungkapkan Yesus Iman dan bukan Yesus Sejarah. Sebaliknya, Injil Thomas diberi tempat istimewa sebagai 'Injil ke-Lima'. (di sambung pada nomor selanjutnya tentang Injil Thomas). A m i n ! http://yabina.org/RENUNGAN/97-98/R9802_2.HTM

BP- 10-31-2005

Review: The Other Jesus Newsweek - edisi Internasional, 27 Maret 2000, hal. 38-47 Oleh: Pdt. Greg Lee Robertson Review Pertama kali saya melihat artikel "The Other Jesus" ini (Newsweek - edisi Internasional, 27 Maret 2000, hal. 38-47), saya langsung waspada, karena saya sudah pernah membaca banyak artikel serupa, yang mengaku objektif dan informatif dalam majalah-majalah sekuler yang terpercaya. Padahal kenyataannya, para penulis tersebut hanya mengandalkan cendekiawan-cendekiawan 'Kristen' yang paling liberal saat ini sebagai narasumber. Sering kali artikel-artikel tersebut mengutip para pengikut "Jesus Seminar", yaitu suatu grup cendekiawan liberal yang membuat pemisahan antara apa yang mereka percayai sebagai ucapan-ucapan Yesus yang sesungguhnya, dengan apa yang mereka anggap sebagai ucapan yang dikarang oleh Gereja mula-mula yang taat, semasa Perjanjian Baru. Artikel "The Other Jesus", sekalipun tidak mengutip dari para cendekiawan konservatif yang baik, namun juga tidak sampai mengutip para cendekiawan "Jesus Seminar" ini. Dan pada akhirnya, masih ada suatu nilai yang menyelamatkan di dalamnya. Artikel "The Other Jesus" hanya memuat satu kutipan yang kelihatannya berasal dari seorang 'teolog Protestan', yaitu John Cobb, yang menjabat sebagai dosen teologia pada tahun 1958-1990 di Claremont School of Theology di California, yang beraliran Methodist. (http://www.trscom.com/cobb.id) Cobb berkata, "Saya pikir, ketika dunia menjadi semakin sempit, figur Yesus justru akan bertambah besar." Suatu pertanyaan yang tepat pada titik ini: Yesus yang mana yang sedang ia bicarakan? Menurut artikel "The Other Jesus", ada banyak figur Yesus! Sebagai pembukaan artikel "The Other Jesus" mengutip Paus Yohanes Paulus II, yang dengan yakin mengatakan bahwa, "Kristus benar-benar orisinil dan unik. Jika Ia hanyalah seorang bijak seperti Socrates, jika Ia hanyalah seorang nabi seperti Muhammad, jika Ia hanyalah seseorang yang mengalami pencerahan seperti Buddha; maka tidak diragukan lagi, Ia tidak akan menjadi seperti sekarang ini." Bagian selanjutnya dari artikel tersebut seakan menempatkan seorang Paus Gereja Katolik Roma sebagai jurubicara bagi semua orang Kristen - Para penganut Kristen Protestan tentunya berkeberatan akan hal ini. Informasi mengenai pernyataan Paus beberapa waktu lalu tentang pengampunan atas "dosa-dosa yang dilakukan atas nama Gereja Katolik", barangkali merupakan ide kunci dalam gerakan-gerakan 'rekonsiliasi' kontemporer di antara beberapa kelompok Protestan, yang percaya bahwa isu-isu Reformasi Gereja abad ke-16 dan peneguhan Alkitab sebagai "satu-satunya kuasa atas iman dan kehidupan", seharusnya tidak lagi menghalangi persatuan di antara orang-orang percaya yang menyebut nama Kristus. Namun usulan ini senantiasa ditolak oleh para penganut Protestan, yang dengan dalih mengatasnamakan persatuan, pada akhirnya diharuskan menggeser otoritas Alkitab dengan otoritas Gereja Katolik Roma. Pemberian maaf atas dosa-dosa yang dilakukan Gereja Katolik Roma sepanjang catatan sejarah memang tidak boleh ditunda-tunda lagi. Namun rekonsiliasi di bawah aturan main mereka berarti bahwa kita kembali ke dalam struktur otoritas Gereja Katolik. Pada akhirnya, hal ini berarti bahwa Alkitab harus digeser dari kedudukan otoritasnya, untuk diserahkan kepada 'Pewaris Tahta' Rasul Petrus sebagai pemiliknya yang sah. Kecenderungan untuk menggantikan otoritas Alkitab dengan pribadi manusia makin dipertegas dalam artikel "The Other Jesus", dengan diceritakannya tujuan-tujuan yang hendak dicapai Paus melalui kunjungannya ke Israel baru-baru ini. "... Beliau datang ke Yerusalem, kota Perdamaian, berharap untuk mendirikan jembatan di antara ketiga agama monoteistik di dunia," sambil menekankan persamaan-persamaan yang ada di antara agama-agama monoteistik Islam, Yudaisme, dan Kristen. Salah satunya adalah "...figur yang dikenal dalam ketiga tradisi tersebut: Yesus dari Nazaret." Sekilas memang kelihatannya Paus menolak untuk menyangkal iman demi "membangun jembatan di antara agama-agama yang kontradiktif", karena beliau menyebut Yesus sebagai "satu-satunya mediator antara Tuhan dan manusia". Namun apabila kita mempelajari sejarah Gereja Katolik, maka pernyataan tersebut bisa menjadi lain artinya. Selama berpuluh-puluh tahun Gereja Roma percaya bahwa "Yesus sebagai satu-satunya mediator" tidak menutup kemungkinan orang-orang non-Kristen untuk memperoleh keselamatan, dan selama berabad-abad mereka telah mengabarkan Injil dengan cara menggantikan dewa-dewa yang disembah masyarakat setempat dengan figur-figur Orang Suci Katolik. Banyak sekali pernyataan dalam artikel tersebut yang menunjukkan karakter sekulernya. Namun satu yang paling menonjol ada pada halaman 41, dalam bagian tetang pandangan Yudaisme terhadap Yesus. "... Sebelum abad pertama lewat, iman kepada Yesus sebagai Tuhan semesta alam dan Juruselamat telah memudarkan identitas-Nya mula-mula sebagai seorang nabi Yahudi dan pembuat mukjizat." Pernyataan ini, meskipun sekilas tampak tak bersalah, sesungguhnya berasal dari ilmu pengetahuan modern yang tidak beriman. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, para cendekiawan Kristen liberal mulai mempercayai bahwa mujizat-mujizat yang dicatat Perjanjian Baru sebenarnya merupakan fabrikasi yang ditambahkan oleh Gereja mula-mula. Pemikir-pemikir liberal ini pun, dengan pengertian yang baru tersebut, mulai menyusun versi mereka sendiri tentang 'kehidupan Yesus'. Dengan demikian, mereka telah menciptakan Yesus baru dengan wajah dempul, yang dapat dipasangkan ke dalam sistem kepercayaan manapun. "Yesus yang lain" ini sepertinya telah menjadi rekaan yang sempurna untuk menyatukan dan menyelesaikan konflik antara agama-agama di dunia. Pendekatan mendasar dalam artikel tersebut semakin diperkuat pada paragraf berikutnya yang mengatakan, "... Kurangnya bukti-bukti di luar Alkitab tentang eksistensi Yesus telah menyebabkan sejumlah kritikus untuk menyimpulkan bahwa Ia hanyalah merupakan fiksi Kristiani yang diciptakan oleh Gereja mula-mula. Namun sesungguhnya ada beberapa bagian yang kemudian dihilangkan dari naskah Talmud, yang menurut para ahli secara tidak langsung menunjuk kepada Yesus. Salah satunya menyinggung tentang seseorang bernama Yeshu (Yesus) yang diadili karena aliran sesat. Namun semua itu tidak memiliki nilai yang independen bagi pencatatan sejarah Yesus." Artikel "The Other Jesus" tidak menjelaskan mengapa referensi-referensi valid tentang Yesus dalam Talmud tadi dianggap tidak memiliki "nilai independen". Juga tidak dijelaskan mengapa ke-29 kitab dalam Perjanjian Baru tidak dianggap sebagai sumber informasi yang akurat. Karena sesungguhnya, Kitab Perjanjian Baru merupakan salah satu dokumen sejarah yang paling dapat dipercaya. Seorang Guru Alkitab, Josh McDowell, menunjukkan bahwa manuskrip Aristoteles paling tua yang pernah ditemukan ditulis 1400 tahun sesudah penulisan naskah aslinya, dan sampai saat ini hanya ditemukan 49 kopi. Sedangkan manuskrip Perjanjian Baru yang paling tua hanya berjarak 80 tahun dari masa penyelesaiannya, dan sampai saat ini telah ditemukan 24.633 manuskrip dan fragmen manuskripnya. Namun kebanyakan orang skeptis modern menolak Perjanjian Baru dan lebih suka menerima kredibilitas Aristoteles. Penting juga untuk dicatat, bahwa Gereja mula-mula tidak memiliki toleransi terhadap saksi-saksi palsu, sebagaimana dibuktikan dengan matinya Ananias dan Safira di pintu Gereja karena mereka sedikit memuntir fakta tentang jumlah uang yang mereka seumbangkan (Kisah Para Rasul 5:5). Kenyataannya, laporan-laporan dan surat-surat dalam Perjanjian Baru dituliskan dengan 'ketakutan yang besar akan Tuhan' tentang akurasinya. Seandainya Gereja saat ini memiliki tingkat integritas yang sama seperti yang dituntut Tuhan dari orang-orang Kristen mula-mula, barangkali di tengah-tengah kita tidak akan ada sebegitu banyak orang skeptis yang mempertanyakan eksistensi Yesus ataupun kebangkitan-Nya. Memang benar, seorang penulis dapat memperoleh lebih banyak dukungan dan akan lebih laris bukunya, apabila ia dapat menunjukkan 'hasil yang signifikan'. Namun jika dipikirkan lebih jauh, kejujuran adalah sikap yang lebih bijaksana. Andaikata semua orang yang membesar-besarkan angka dalam Gereja hari ini juga dibinasakan, maka seluruh organisasi misi akan musnah, dan beberapa buku best seller saat ini akan disingkirkan ke bagian mitologi. Para praktisi 'The Word Faith Movement', yaitu salah satu ajaran palsu yang paling berbahaya dalam Gereja saat ini, akan habis dimusnahkan. Bukannya menerima penghargaan atas pernyataan-pernyataan palsu tentang penyembuhan, malah mereka akan jatuh binasa sebelum mereka dapat mengakui sepatah kata pun. Setelah meninggalkan Alkitab, artikel "The Other Jesus" hanya dapat berkisar antara berbagai opini dari para cendekiawan masa kini dan masa lalu, yang kadang saling bertentangan, dan kadang saling bekerja sama untuk menyusun kembali identitas dan maksud dari suatu pribadi yang kita sebut Yesus. Pada permulaan tulisan ini saya telah menyatakan bahwa artikel "The Other Jesus" masih memiliki nilai yang menyelamatkan - dan itu adalah Salib Kristus! "... Jelaslah, bahwa yang memisahkan Yesus dalam keKristenan dengan Yesus-Yesus lainnya adalah salib-Nya. Dalam Yudaisme, tidak ada preseden bagi seorang Mesias yang mati, apalagi mati sebagai seorang kriminal, seperti Yesus. Dalam pandangan Islam, kematian Yesus ditolak sebagai penghinaan terhadap Allah sendiri. Umat Hindu hanya dapat menerima Yesus yang telah memasuki kedamaian dalam semedi - seorang yogi yang terluput dari kematian. Figur Yesus yang tersalib, menurur Thich Nhat Hanh, seorang Buddha, "adalah sangat menyakitkan bagi saya. Citra tersebut tidak mengandung sukacita maupun kedamaian, dan ini tidak adil bagi Yesus. Pendeknya, dalam agama-agama lain tidak ada tempat bagi Kristus yang mengalami derita kematian, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk mempercayai bahwa Ia adalah Anak Allah yang telah bangkit dari maut." Artikel "The Other Jesus" dengan bijaksana mengungkapkan hal ini sebagai inti terpenting dalam sejarah dunia – Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan." Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. - 1 Korintus 1:18-24 http://www.gepembri.org/id/article/a_430001.htm

Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.