View Full Version: KEDAULATAN ILAHI

sarapanpagi >>AJARAN / DOKTRIN/ AYAT ALKITAB >>KEDAULATAN ILAHI


<< Prev | Next >>

BP- 10-26-2005
KEDAULATAN ILAHI
Kedaulatan Ilahi Walaupun doktrin divine sovereignty (kedaulatan ilahi) sering kali diasosiasikan dengan calvinism, doktrin ini penting juga buat non calvinist. Hanya saja ketidak setujuan antara 2 belah pihak , calvinist dan non calvinist, terletak pada DEFINISI dari divine sovereignty tersebut. apakah arti dari divine sovereignty ? apakah itu berarti bahwa Allah harus menjadi 'the ultimate cause or determiner' dari segala sesuatu? Bahwa Allah harus constant dan komplit mengontrol segala sesuatu? Apakah itu berarti Dia bebas untuk melakukan segala sesuatu setiap saat ? Apakah itu berarti bahwa Allah harus absolut unlimited dalam segala tindakan-Nya? apakah itu berarti bahwa segala keputusan-Nya dan ketetapan-Nya harus total unconditioned dari pihak luar selain diri-Nya sendiri? Dalam hal apakah manusia mempunyai kehendak bebas atau sebagai free agency? Bagaimana keputusan bebas mereka dan tindakan mereka berhubungan dengan kedaulatan ilahi? Apakah konsep dari kehendak bebas membatasi atau bahkan menolak kedaulatan ilahi? Seperti yang Carson (calvinist) nyatakan: "If God is absolutely sovereign, in what sense can we meaningfully speak of human choice, of human will?... Must God be reduced to accomodate the freedom of human choice? (Divine sovereignty and Human Responsbility). Dikalangan calvinist "free will is a dirty word". Saya yakin sebagian calvinist ketika membaca ini pasti banyak yang menyangkal pernyataan saya. Mereka akan bilang kalo mereka percaya akan adanya kehendak bebas manusia. Tapi apa iya begitu? Sebelum saya membahasnya mari kita melihat dulu pandangan calvinist terhadap natur dari divine sovereignty. Calvinism dan kedaulatan ilahi Dikalangan calvinist, problem kedaulatan ilahi dan kehendak bebas biasanya dialamatkan ke 2 level yang berbeda. 1. Dalam konteks doktrin Allah (Theology proper). Kedaulatan dihubungkan sebagai karakter dari semua karya Allah , termasuk dalam penciptaan dan dalam hubungan dengan seluruh manusia (bukan hanya orang berdosa). 2. Dalam konteks soteriology. Muncul dari premise total depravity. Ketidak mampuan orang berdosa untuk merespon terhadap Injil menyebabkan the unconditionality dari Kedaulatan Allah memberikan keselamatan kepada orang² tertentu. Calvinistic diskusi biasanya mentok dengan kalimat paradox, antinomy, contradiction, and mystery. Seperti yang dikatakan Klooster "divine sovereignty and human responsbility are paradoxical and beyond human comprehension". Mencoba menghindari agnostic attitude ini, para calvinist mengerahkan banyak waktu dan energi untuk menjelaskan the unexplainable. Konsisten Calvinism John Feinberg (calvinist) berkata "calvinists are usually deterministic." (Predestination and free will, David Basinger and Randall Basinger). Zanchius berkata "All beings whatever, from the highest angel to the meanest reptile tothe minutest atom, are the objects of God's eternal decrees" (The doctrine of absolute predestination). Boettner menyebutnya the "all-embracing Decree", termasuk even sejarah sampai dengan yang terdetail sekalipun sudah ditentukan oleh Allah. Ini mencangkup semua keputusan manusia, bahkan yang menyangkut dosa sekalipun. Dan Bavinck menyimpulkannya demikian "The final answer to the question why a thing is and why it is as it is must ever remain: 'God willed it', berdasarkan atas kedaulatan (absolut) ilahi-Nya. Dalam teologi reformed/calvinistic, Allah tidak menetapkan sesuatu sebagai response atau reaksi terhadap sesuatu, melainkan Allah meng-inisiasi-kan semuanya... "God initiates all things" (A.W Pink, The Sovereignty of God). Dalam teologi reformed, apa yang Allah tetapkan dan lakukan sama sekali 'tidak tergantung' (baca: terlepas) dari ciptaan-Nya. Karena jika begitu akan membuat Allah tidak berdaulat ... "A conditional decree would subvert the sovereignty of God and make him... dependent upon the uncontrollable actions of his own creatures." (A.A. Hodge, outlines of theology). Teologi reformed menghasilkan 'theistic determinism'. Teologi reformed mengajarkan hal yang diajarkan oleh Quran. Dalam arti kata "human free will is a myth" (Samuel Storm, The Grandeur of God) Normal Geisler (moderate calvinist) dalam bukunya bercerita tentang seorang pembicara konferensi yang terkenal yang sedang menjelaskan tentang kematian tragis putranya. Terpengaruh oleh latar belakang calvinistic nya, maka dia (pembicara tersebut) sampai pada kesimpulan 'Allah membunuh putra saya'. "A Sovereign God killed his Son, and therein he found ground for a great spiritual victory, he assured us. I tought to myself, "I wonder what he would say if his daughter had been raped?" Apakah dia akan sampai pada kesimpulannya semula "Alah memperkosa putri saya!". Ketidak-konsistenan Calvinism Sebagian besar calvinist, bagaimanapun juga, menolak konsep bahwa Allah lah yang menyebabkan dosa. Karena itu mereka juga mau mempertahankan sedikit konsep dari kehendak bebas. Unconditional decree dan kebebasan manusia Mereka yang berargumen untuk keduanya, deteminism dan kehendak bebas biasanya disebut juga compatibilists (deteminism compatible dengan kehendak bebas). Contohnya adalah John Feinberg, yang berargumen "a view of freedom which is deterministic in nature. All free human actions, including sin are 'causally determined". Pandangan yang dianut oleh Feinberg ini adalah pandangan yang dianut oleh John Calvin. Walaupun sebagian calvinist tidak setuju terhadap pandangan ini. Sebagian besar calvinist akan menolak ide 'the determinist', tapi tetap menggunakan argumen yang berbau determinism. Contohnya Geisler menolak pandangan Feinberg sebagai "strong calvinistic determinism". Tapi dia sendiri mengatakan bahwa "God predetermines all things, even our future free will choices. Geisler memberikan contoh untuk itu "God determined that Judas would freely betray Christ" (Chosen but free). Berkhof mengatakan "reformed theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined all things from all eternity whatsoever will come to pass" ( Systematic theology). Teolog besar calvinist, Charles Hodge mengingatkan bahwa ketetapan Allah sama sekali bebas, yang artinya adalah 'in no case conditional'. Kenapa pandangan ini tidak konsisten? Sekarang kita bertanya, bagaimana bisa para calvinist tersebut terus²an berbicara tentang kedaulatan ilahi yang seperti ini dimana pada saat yang sama mereka juga mempertahankan kehendak bebas? Tidak pengaruh bagaimana kehendak bebas itu didefinisikan, Calvinism tetaplah teologi determinasi selama mereka mengajarkan bahwa ketetapan Allah sama sekali unconditional oleh manusia , atau selama mereka mengajarkan bahwa ketetapan Allah tidak mungkin sebagai reaksi terhadap sesuatu dalam dunia. Ide bahwa Allah yang berdaulat harus selalu act dan tidak pernah react adalah point dimana semua calvinist setuju. Seperti yang dikatakan Daane "How persasively this view has penetrated and shaped Reformed Theology! Here is the theological bottom from which has arisen what is often regarded as the correct Reformed understanding of God's immutability and of sovereignty" (The freedom of God:A study of Election and Pulpit). Erickson melihat perbedaan 'conditional' dan 'unconditional' sebagai tipikal perbedaan antara Arminianism dan Calvinism. Shedd melihat perbedaan antara sovereignty dan conditional sebagai pertentangan. Teolog reformed setuju bahwa ketetapan Allah unconditional atau absolut. Daane melanjutkan perkataannya "God cannot be affected by, nor respond to, anything external to him". Salah satu implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa ketetapan Allah tidak tergantung oleh Pra-Pengetahuan Allah terhadap masa depan. Yang ada sebaliknya, bahwa Pra-Pengetahuan Allah tergantung dari ketetapan-Nya atau dalam kata lain, 'Allah hanya bisa mengetahui sesuatu yang sudah Dia tetapkan terlebih dahulu'. Ide bahwa Allah membuat ketetapan-Nya berdasarkan atas Pra-Pengetahuan-Nya terhadap tindakan manusia "menempatkan Allah pada posisi yang tidak layak karena Allah menjadi bergantung dari ciptaan-Nya" (Chafer, Systematic Theology). Sekarang, bagaimana mungkin seseorang yang percaya terhadap ide absolut unconditional bisa percaya juga terhadap kebebasan manusia? Bagaimana mungkin seseorang yang percaya kepada doktrin absolut unconditional bisa percaya kepada doktrin 'ketetapan yang mengijinkan'? Jika semua kutipan² dari para calvinist itu dirangkum jadi satu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah lah penyebab dosa. Ide dari para calvinist bahwa ketetapan Allah yang menyangkut dosa itu ketetapan yang bersifat mengijinkan sama sekali bertentangan dengan doktrin mereka 'absolut conditional'. Karena jika ketetapan itu bersifat mengijinkan maka Allah, seperti klaim para calvinist itu sendiri, menjadi tergantung pada ciptaan-Nya. Dan, ketetapan bersifat mengijinkan itu adalah ketetapan yang kondisional, bertentangan dengan doktrin calvinist absolut konditional. Calvinist mengatakan bahwa ketetapan Allah tidak berdasarkan pra-pengetahuan-Nya dan ketetapan ini menyangkup semua hal, termasuk dosa. Calvinist berargumen, apa yang sudah diketahui sebelumnya berarti pasti akan terjadi, dan jika pasti terjadi untuk apa ditetapkan lagi? Tapi jika mereka diperhadapkan dengan kejatuhan manusia kedalam dosa, mereka tidak konsisten dengan pernyataan mereka sendiri, dan mengatakan bahwa Allah mengijinkan Adam jatuh kedalam dosa. Bukankah dengan Allah mengijinkan, itu berarti Allah sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa Adam akan berbuat dosa? Lalu jika sudah tahu, untuk apa ditetapkan lagi? Bersambung.


Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.