2. KISAH DI ZAMAN ABRAHAM

Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian 22:8 dan 13
“Tuhan yang akan menyediakan
anak domba untuk korban bakaran bagiNya”
“Abraham memanggil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai
korban bakaran pengganti anaknya”
Kisah ini sungguh bermakna hakiki dan dasyat!.
Bagaimana duduk perkaranya?. Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh seorang bapak yang sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah yang dilakukan si-anak sehingga ia layak dibunuh?. Ada apakah dibalik teka-teki yang misterius bahkan tak masuk akal ini?, menguji iman-kah? Oke, Tetapi tentu Tuhan tidak kehabisan cara menguji sehingga harus terpaksa memilih cara yang melawan hukumNya?.
Tuhan sendiri telah melarang pembunuhan dan pengorbanan darah anak (yang sering dilakukan orang kafir (Imamat 18:21), mungkinkah Tuhan tiba-tiba justru menyuruh Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah pembunuhan keluarga nabi?.
Banyak orang beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian kepada Ibrahim, dengan anggapan yang hanya sebatas demikian. Dengan anggapan seperti itu, mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan. Mereka belum menyadari bahwa itu adalah suatu
penggambaran dasyat akan sebuah konsep penebusan yang
dijanjikan Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat sebuah
tamsil dimana sang kurban (anak-domba) perlu dibunuh demi menebus sang anak (anak Abraham) demi keadilanNya. Tuhan memang mengharuskan semua orang yang berdosa dihukum mati (Roma 6 : 23).
Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai anak-Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan tebusan
Anak Domba Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus . Agar perlambangannya tidak salah, maka Nabi Yahya (Yohanes pembabtis) diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut ketika Yesus
secara fisik datang menghampirinya :
* Yohanes 1:29
LAI TB,
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."
KJV,
The next day John seeth Jesus coming unto him, and saith, Behold the Lamb of God, which taketh away the sin of the world.
TR,
τη επαυριον βλεπει ο ιωαννης τον ιησουν ερχομενον προς αυτον και λεγει ιδε ο αμνος του θεου ο αιρων την αμαρτιαν του κοσμου
Translit interlinear,
tê epaurion {pada hari yang berikut} blepei {ia melihat} iôannês {Yohanes} ton iêsoun {Yesus} erchomenon {datang} pros {kepada} auton {dia} kai {dan} legei {berkata} ide {inilah} ho amnos {Anak Domba} tou theou {Allah} ho airôn {yang menanggung/ menyingkirkan} tên hamartian {dosa} tou kosmou {dunia}

Tuhan sendiri secara
“vertical dari atas” yang menyediakan (meng-anugerahkan) tebusan keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang mengusahakannya (kembali sama dengan analogi penebusan dari
‘cawat kulit’ made-in Tuhan: Sungguh sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam).
Mari kita pelajari 2 hal sederhana berikut ini :
(a) Apa perlunya sang-anak itu disebut oleh Tuhan?
Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah cukup melepaskan anaknya tanpa usah tebusan kurban. Ujian iman telah berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim “STOP, jangan bunuh anakmu”
(b) Dan Mengapa Tuhan memerlukan kematian kurban?
Banyak orang aka sulit mendalilkan kisah itu, kecuali mendalilkannya secara logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri inti : “Mengapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi?”
Itulah kematian kurban, ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang MESIAS/ AL-MASIH, yang diperlukan sebagai KURBAN-PENEBUS (untuk mengganti) kematian yang harus dikenakan kepada setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa). Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia berdosa
harus dihukum mati (Roma 6:23); Namun HUKUM KASIH dari Tuhan kini dapat berkata
“Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28 ).
Bagaimanakah kita akan menjawab pertanyaan ini :
Karena Allah itu Maha Adil (yang harus menghukum), apakah Ia akan mengabaikan keadilanNya karena Ia juga Maha Kasih (yang akan mengampuni)?.
Dapatkah Allah mengampuni seseorang
tanpa memperkosa hakekat diriNya yang Maha Adil?
Ketika Tuhan tidak menghukum karena kasihNya, Tuhan menjadi
non-Adil; dan ketika menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi
non-Kasih. Ketegangan (kontradiksi) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban sebagai Penebus – pembayar harga kematian – yang mempertemukan Keadilan Tuhan dengan kasih Tuhan. Kini, Ia tetap Maha Adil ketika mengampuni dalam kasihNya, karena Tuhan sendiri telah membayar harga keadilan itu lewat kematian Al-Masih, Sang Firman yang
diinkarnasikan kedalam dunia!.>
-----