YESUS Anak Manusia YESUS Anak ManusiaAnak Manusia/ uios tou anthrôpou Anak Manusia adalah sebutan bagi Yesus Kristus, seringkali Yesus Kristus memakai istilah ini sebagai ganti kata diri-Nya :
Istilah "Anak Manusia" menekankan aspek kemanusiaan Yesus Kristus, meskipun tidak menutup kemungkinan sisi lain yaitu aspek keilahian, namun aspek keilahian ini lebih sering ditonjolkan dengan istilah "Anak Allah".
Yesus Kristus adalah Allah, sekaligus sebagai manusia. Perhatikan ayat dibawah ini, bagaimana Yesus Kristu ’mengganti’ istilah "Anak Allah" menjadi "Anak Manusia" The Son of Man (Yohanes 1:49-51). Hubungan antara surga dengan dunia tergantung baik pada tabiat manusiawi Yesus Kristus maupun tabiat ilahi-Nya.
* Yohanes 1:49-51
1:49 Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"
Greek Translit : apekrithê nathanaêl kai legei autô nathanaêl rabbi su ei o uios tou theou su ei o basileus ei tou israêl
1:50 Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu."
Greek Translit : apekrithê iêsous kai eipen autô oti eipon soi oti eidon se upokatô tês sukês pisteueis meizô toutôn opsê opsei
1:51 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."
Greek Translit : kai legei autô amên amên legô umin ap arti opsesthe ton ouranon aneôgota kai tous aggelous tou theou anabainontas kai katabainontas epi ton uion tou anthrôpou
Istilah "Anak Manusia" dan istilah “Anak Allah”. Menunjukkan hubungan antara surga dengan dunia tergantung baik pada tabiat manusiawi Yesus Kristus maupun tabiat ilahi-Nya.
Perhatikan ayat berikut :
* Yohanes 3:13.
"Tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia."
Greek Translit : kai oudeis anabebêken eis ton ouranon ei mê o ek tou ouranou katabas o uios tou anthrôpou
Ditinjau dari satu sisi, ayat di atas pun mengacu kepada kemanusiaan Yesus Kristus, dan terlalu banyak untuk ditelaah satu demi satu.
Istilah "Anak Manusia" muncul lebih dari 30 kali dalam Injil Matius, 15 kali dalam Injil Markus, 25 kali dalam Injil Lukas, dan selusin dalam Injil Yohanes. Di luar Injil, kata ini muncul dalam Kisah Para Rasul 7:56, dua kali dalam kitab Wahyu.
BP- 08-31-2005
GELAR "ANAK MANUSIA" DALAM INJIL SINOPTIK GELAR "ANAK MANUSIA" DALAM INJIL-INJIL SINOPTIK
Kitab-kitab Injil memberi kesan bahwa Yesus cenderung memakai sebutan lain, yaitu Anak Manusia.
Ungkapan Yunani yang kurang lazim ini timbul hanya sebagai terjemahan dari ungkapan khas bahasa Semit (Ibrani "ben 'adam"; Aram "bar nasya"), artinya, kalau bukan khas sosok "manusia" adalah umat manusia pada umumnya.
* Yehezkiel 2:1,
"Firman-Nya kepadaku: 'Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau.'"
BHS, " VAYO'MER 'ÊLÂY BEN-'ÂDÂM 'AMOD 'AL-RAGLEYKHA VA'ADABÊR 'OTÂKH"
* Mazmur 8:4,
"apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"
BHS, "MÂH-'ENÕSY KÎ-TIZKERENÛ ÛVEN-'ÂDÂM KÎ TIFQEDENÛ"
Dalam Daniel 7:13 dan ayat-ayat berikutnya ungkapan itu berkata " datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.... Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah."
Pada zaman Yesus, memakai ungkapan itu dianggap sopan bila mengacu kepada diri sendiri dalam keadaan tertentu, kendati beda pendapat apakah kata itu dipakai untuk membuat pernyataan tentang umat manusia secara umum termasuk pembicara secara khusus, atau untuk membuat pernyataan yang mengacu hanya kepada pembicara.
Yesus sering menggunakan ungkapan itu, dan tampilnya ungkapan itu dalam Injil Sinoptik menimbulkan perdebatan.
Pada satu pihak, ada anggapan bahwa muasal makna ungkapan itu adalah Daniel 7:13 dan ayat-ayat berikutnya; dan dianggap merujuk ke kedatangan sesosok makhluk surgawi yang dilukiskan dengan perlambang apokaliptik – akan terjadi pada masa datang dan kepada peran tokoh ini pada penghakiman yang terakhir. Beberapa ahli berpendapat bahwa gereja perdana yang pertama memakai konsep ini untuk melukiskan peranan Yesus di masa datang; yang lain mengemukakan pendapat berdasarkan Lukas 12:8 dan ayat-ayat berikutnya, bahwa Yesus mempralihatkan datangnya seorang tokoh zaman akhir 'yang lain dari diri-Nya sendiri', yang akan membela pekerjaan Yesus, dan oleh gereja perdana, di kemudian hari, menyamakan Yesus dengan tokoh yang akan datang itu. Pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa Yesus memandang kepada kedatangan-Nya yang akan datang sebagai Anak Manusia.
Di samping penalaran "masa depan" di atas, ada ayat-ayat yang berbicara tentang otoritas dan kehinaan Anak Manusia dan yang menubuatkan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Memang memprihatinkan – tapi bukan tidak mungkin – melihat bagaimana pernyataan-pernyataan demikian dibuat tentang Anak Manusia yang dilukiskan dalam Daniel 7. Karena itu banyak ahli berpendapat bahwa pemakaian kata Anak Manusia dalam ucapan-ucapan seperti itu berasal dari gereja perdana yang – sesudah menyamakan Yesus dengan Anak Manusia yang akan datang – mulai memakai gelar itu berkaitan dengan pekerjaan-Nya dan penderitaan-Nya waktu hidup di bumi ini. Ahli-ahli lain berpendapat bahwa Yesus memberikan tafsir ulang hasil kreasi-Nya sendiri, mengenai peranan Anak Manusia berdasarkan pengaruh nubuat tentang Hamba YHVH yang menderita (Yesaya 52:13-53:12).
Di pihak lain, beberapa ahli menerima pemakaian kata "bar nasya" sebagai sebutan diri sendiri dalam bahasa Aram, dan atas dasar itu mereka berpendapat bahwa Yesus menggunakan kata ini melulu sebagai alat merujuk kepada diri-Nya sendiri. Berdasarkan pandangan ini, maka pernyataan dalam Kitab-kitab Injil yang isinya tidak apokaliptik dan yang mengacu kepada Yesus sebagai melulu manusia, nampaknya adalah otentik. Di kemudian hari, pemakaian istilah itu oleh Yesus menuntut gereja ke Daniel 7, dan gereja mulai menafsirkan ulang ajaran Yesus dalam nada apokaliptik.
Mungkin para ahli tersesat karena terus bertahan mempedomani suatu asas asli untuk menalar semua sebutan itu dan kurang sungguh-sungguh mengindahkan keragaman artinya. Jelas istilah itu dapat dipakai sebagai sebutan diri sendiri, kendati keadaan yang tepat yang terkait dengannya masih belum dapat dipastikan. Juga tak dapat disangkal bahwa istilah itu bisa sebagai gelar. Seorang penafsir menalar tepat bahwa pemakaian kata sandang dalam ungkapan ini bisa memberi makna "sosok" manusia itu. Kenyataan bahwa tokoh ini mempunyai peranan dalam beberapa segi pemikiran Yahudi teracu dalam 1 Henokh dan 4 Ezra. Justru pendekatan yang terbaik ialah tetap mempedomani Daniel 7:13 dan ayat-ayat berikutnya sebagai titik tolak dan melihat di situ sosok, mungkin pemimpin dan wakil Israel, dan dengan itulah Yesus menyamakan diri-Nya sendiri. Tokoh ini memiliki otoritas dan ditentukan untuk memerintah atas dunia, tapi jalan menuju pemerintahan itu adalah merendahkan diri, penderitaan, dan ditolak. Tidak sukar memahami ucapan Yesus berkaitan dengan jalan itu, dengan pengertian bahwa Dia mempralihat diri-Nya sendiri ditolak dan kemudian dibela oleh Allah.
Pandangan di atas sangat meyakinkan atas nalar, Yesus memahami situasi di mana Ia melakukan pekerjaan-Nya, yang membawa Dia berbenturan dengan para penguasa Yahudi yang memusuhi-Nya, dan cara Yesus menerapkan dalam
hidup-Nya pola hidup saleh seperti dilukiskan dalam Perlanjian Lama, yang oleh karena pola itu orang-orang salah bersangkutan bisa saja ditolak dan dianiaya, dan mereka harus mutlak percaya bahwa Allah akan melepaskan mereka. Pola hidup saleh ini disajikan dalam mazmur-mazmur tertentu, dalam nubuat tentang Hamba YHVH yang menderita, di jalan hidup "orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi" dalam Daniel 7:22. Juga dalam kitab Kebijaksanaan – kendati kitab ini diragukan berpengaruh terhadap Yesus – dan dalam cerita-cerita rakyat yang menyanjung-nyanjung para martir Makabe.
Berkaitan dengan uraian di atas, adalah aneh jika Yesus tidak mengetahui bahwa hidup-Nya akn demikian. Dan ucapan Yesus "Siapakah Anak Manusia itu?" (Yohanes 12:34) pasti membingungkan pendengar-Nya. Agaknya Ia sengaja mempertanyakan itu untuk menutupi sebagian klaim-Nya sendiri guna menghindari kemungkinan timbulnya harapan-harapan palsu.
Kebijakan itu menuntut kekuasaan tapi justru kekuasaan demikianlah yang luas ditolak manusia. Jadi dalam menggunakan ungkapan ini Yesus menyatakan bahwa Dialah wakil Allah – final dan utuh sempurna – bagi manusia, yang ditentukan untuk memerintah tapi ditolak oleh Israel, dihukum dan menderita, tapi dibela oleh Allah. <ðððð>
Yohannes/Biblika
BP- 08-31-2005
GELAR YESUS KRISTUS DALAM TULISAN YOHANES GELAR YESUS KRISTUS DALAM TULISAN YOHANES
Dalam Injil Yohanes, pola penggunaan gelar itu sama dengan pola dalam Injil-injil lainnya. Kitab-kitab Injil menceritakan kegiatan manusia Yesus, dan bentuk gabungan Yesus Kristus hanya muncul dua kali bila totalitas makna Yesus dilihat dari sudut pandang sesudah kebangkitan.
Walaupun istilah "Tuhan" berulang kali dipakai untuk menyapa Yesus, tapi dalam cerita jarang digunakan untuk memaksudkan Yesus sampai sesudah kebangkitan, yang menetapkan kedudukan Yesus yang baru. Tapi penting diperhatikan bahwa Yesus sendiri menunjukkan kedudukan-Nya sebagai "Tuhan" yang memberi perintah kepada hamba-hamba-Nya, walaupun murid-murid-Nya Dia pandang lebih sebagai sahabat-Nya ketimbang hamba-Nya.
Satu dari sekian masalah pokok dalam Injil Yohanes ialah apakah Yesus memang "Mesias" yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi dan orang Samaria; tujuan Injil Yohanes ialah membimbing orang mempercayai hal ini. Kendati gelar "Mesias" jarang digunakan dalam Injil-injil lain, tapi dalam Injil Yohanes Yesus diakui "Mesias". Tapi sangat menarik perhatian bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengucapkan kata itu.
Acuan-acuan lain yang bersifat setengah gelar yang digunakan dalam Injil Yohanes ialah "Yang (akan datang)", "Yang Kudus dari Allah", "Juruselamat", "Anak Domba Allah", "Nabi", dan "Raja Israel". Beberapa dari gelar ini terdapat juga dalam Injil Sinoptik.
Begitu pula gelar "Anak Manusia", yaitu sebutan khas dari Yesus tentang diri-Nya sendiri, mendapat kedudukan penting dalam Injil Yohanes. Tapi di sini ada penekanan baru pada asal surgawi Anak Manusia itu, pada kedatangan-Nya ke dunia ini, pemuliaan-Nya di kayu salib, arti dan peranan-Nya di kayu salib dan artinya Dia sebagai pemberi hidup, hal-hal yang alpa dalam Injil-injil Sinoptik. Walaupun tidak perlu menganggap bahwa pengaruh-pengaruh asinglah yang mendorong penggunaan gelar itu dalam Injil Yohanes, tapi jelas bahasa yang diagunakan cukup berbeda dari bahasa-bahasa Injil-injil Sinoptik untuk mengisyaratkan bahwa -- kendati sebuatan-sebutan itu jelas berdasarkan ajaran Yesus -- sebutan-sebutan itu sampai batas tertentu telah ditulis ulang oleh Penginjil sendiri atau oleh penulis sumber-sumbernya.
Tidak diragukan bahwa gelar utama Yesus dalam Injil Yohanes adalah "Anak Allah". Belar ini menandakan karibnya hubungan Allah dengan Anak-Nya yang tunggal, yang sudah ada sebelum penciptaan; hubungan ini ialah saling mengasihi, dan kasih ini diungkapkan dalam cara Anak menaati Bapa-Nya dan Bapa telah mempercayakan kepada-Nya tugas-Nya sebagai Hakim dan Pemberi hidup. Hubungan Yesus sebagai khas Anak dengan Allah, yang kita dapati dalam Injil Sinoptik diungkapkan di sini lebih jelas lagi. Pada dasarnya pemikiran itulah muatan gelar 'logos' (atau "Firman") yang terdapat dalam pendahuluan Injil ini. Begitu dekatnya Firman disamakan dengan Allah, sehingga tepat bila Yesus diberi gelar "Allah"; jelas inilah makna pengakuan Tomas dalam Yohanes 20:28, di mana penampakan Yesus yang telah bangkit itulah yang mendampakkan pengakuan akan ke-Allah-an-Nya. Yesus juga diperkenalkan sebagai "Anak Allah yang sama dengan Bapa" (Terjemahan Bahasa Indonesia "ada di pangkuan Bapa") dalam Yohanes 1:18.
Perlu kita perhatikan bahwa ada beberapa ungkapan "Aku-lah" dalam Yohanes yang berkaitan dengan "Gembala yang baik" dan "Pohon anggur yang benar" merujuk kepada Yesus. Kadang-kadang kita jumpai ungkapan "Aku ini", "Aku ada". Karena ungkapan-ungkapan ini adalah gema dari pengakuan YHVH akan diri-Nya yang terdapat dalam Yesaya 43:10 dan 48:12, maka patutlah ungkapan-ungkapan ini kita pandang secara terselubung memaksudkan ke-Allah-an Yesus.
Penggunaan gelar dalam surat-surat Yohanes serupa dengan penggunaannya dalam Injil Yohanes, walaupun ada beda dalam cara Injil Yohanes memperkenalkan Yesus waktu hidup di dunia dari cara Surat Kiriman memperkenalkan Tuhan yang telah bangkita dari kematian. Satu-satunya Surat dalam Perjanjian Baru yang tidak merujuk kepada Yesus ialah 3 Yohanes.Tapi hal itu tentu bukanlah tanpa sebab. Dalam 1 Yohanes sering Yesus menjadi pokok uraian, di mana dinyatakan Yesus adalah "Mesias" atau "Anak Allah". Walaupun di sini bisa timbul pertanyaan apakah Yesus memang adalah Mesias yang dinanti-nantikan orang Yahudi, umumnya para ahli sependapat bahwa masalah pokok yang paling mendasar di sini ialah, apakah dalam Yesus sudah ada inkarnasi Allah yang sungguh-sungguh dan mantap. Lawan-lawan Yohanes agaknya menyangkal kesatuan yang utuh mantap dan langgeng pada Mesias atau Anak Allah dengan Yesus, dan Yohanes harus menekankan bahwa Yesus Kristus benar-benar sudah datang baik dengan (dalam) air maupun dengan (dalam) darah. Artinya, menjalani baptisan dan mengalami kematian. Justru Yohanes memakai gelar selengkapnya, "Anak-Nya, Yesus Kristus" untuk menandaskan obyek kepercayaan Kristen. Hanya Anak Allah saja yang bisa menjadi Juruselamat dunia. Istilah "Tuhan" alpa dalam Surat-surat Yohanes.
Dalam Wahyu, nama Yesus mendapat kedudukan penting sebagai sebutan seperti dalam Ibrani. Gelar lengkap Yesus Kristus hanya digunakan sebagai sebutan khidmat dalam pendahuluan Kitab, tapi ada empat ayat mengenai Mesias atau Mesias-Nya, yang menunjukkan bahwa pemikiran mengenai Mesias sebagai petugas Allah untuk menegakkan pemerintahan-Nya sangat hidup pada Yohanes. Pemikiran ini selanjutnya nampak dalam cara penggunaan gelar ilahi "Raja" dan "Tuhan" baik terhadap Allah maupun Yesus. Tapi gelar Yesus yang paling khas istimewa dalam Wahyu ialah "Anak Domba", yang di sini muncul 28 kali dan tidak muncul di tempat-tempat lain. "Anak domba" menggabungkan ciri-ciri paradoksal, yaitu sudah disembelih atau disalibkan tapi menjadi Tuhan yang patut disembah. Ia mengarahkan murka Nya terhadap yang jahat dan dipimpin-Nya umat Allah dalam peperangan, tapi darah-Nya-lah yang menjadi korban penghapus dosa, dan melalui darah-Nya umat-Nya yang sudah mati martir bangkit dalam kemenangan. <ðððð>
Sumber : Yohannes/ Biblika
Artikel terkait lainnya :
GELAR YESUS KRISTUS : ANAK MANUSIA, di forumer.com/viewtopic.php?p=1204#1204" target="_blank">http://sarapanpagi.6.forumer.com/viewtopic.php?p=1204#1204
Forumer™ is Voted #1 Free Forum Hosting provider
Build your own community today with the largest message board hosting company.